Kompas.com - 24/02/2021, 18:42 WIB
Ilustrasi memakai skin care. PEXELS/ANDREA PIACQUADIOIlustrasi memakai skin care.

KOMPAS.com - Di masa kehamilan, calon ibu tentunya ingin memberikan yang terbaik bagi calon buah hati.

Selain menjaga asupan, ibu tentunya juga ingin memastikan produk skin care yang digunakan aman bagi bayi.

Nah, bahan skin care apa saja sih yang sebaiknya dihindari oleh ibu hamil?

Sebentar, sebelumnya ketahui dulu seperti apa perubahan kulit yang dialami oleh kebanyakan ibu hamil.

Ini berkaitan dengan perubahan hormon dan ibu mungkin tidak bisa menggunakan produk yang sama seperti sebelum masa kehamilan.

Melansir Healthline, beberapa masalah kulit yang banyaka dialami ketika kehamilan, antara lain:

  • Kulit kering.
  • Kulit menggelap (melasma).
  • Jerawat.

Para wanita yang sebelumnya sudah punya kondisi kulit seperti eksim, psoriasis atau rosacea juga mungkin mengalami perubahan pada gejala yang biasa dialami, bisa berkurang atau malah lebih parah.

Baca juga: Mengenali Masalah Kulit saat Hamil dan Cara Aman Mengatasinya

Nah, karena seluruh bagian tubuh wanita saling berkaitan ketika hamil, perubahan pada kulit juga dapat memengaruhi area tubuh lainnya. Misalnya, mulai bermunculan stretch mark, perubahan pertumbuhan rambut, hingga rambut rontok.

Agar lebih pasti, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terkait produk skin care mana saja yang masih boleh digunakan ketika hamil dan tidak.

Namun, secara umum, berikut beberapa bahan skin care yang berbahaya bagi ibu hamil dan sebaiknya dihindari:

1. Retinoid

Vitamin A adalah nutrisi yang sangat penting tidak hanya bagi kesehatan kulit, tetapi juga untuk kekebalan tubuh, kesehatan mata, dan lainnya.

Ketika diaplikasikan ke kulit dan meresap, tubuh akan mengubahnya menjadi retinol.

Beberapa produk anti-penuaan menggunakan jenis retinol yang disebut retinod. Kandungan ini diyakini dapat membantu menyamarkan jerawat dan mengurangi garis-garis halus.

Retinoid membantu merangsang pengelupasan sel-sel kulit agar lebih cepat dan meningkatkan produksi kolagen untuk meremajakan kulit.

Biasanya, produk yang dijual bebas memiliki kandungan retinoid yang lebih rendah daripada obat resep.

Jumlah retinoid yang diserap dari produk-produk topikal sebetulnya cenderung rendah, tetapi pada dosis yang lebih tinggi kerap dikaitkan dengan risiko kecacatan yang tinggi.

Oleh karena itu, penggunaan semua retinoid tidak disarankan selama kehamilan.

Wanita usia subur disarankan untuk tetap dipantau oleh dokter selama kehamilan dan mengehentikan penggunaan obat dengan kandungan yang dianggap berbahaya bagi janin sekitar satu hingga dua bulan sebelum mencoba hamil.

Baca juga: Bakuchiol Dapat Menjadi Retinol Alami? Ini Penjelasannya

2. Asam salisilat dosis tinggi

Asam salisilat adalah kandungan yang umum digunakan untuk mengatasi jerawat karena memiliki sifat anti-peradangan.

Namun, sebuah penelitian tahun 2013 menemukan bahwa produk-produk dengan kandungan asam salisilat berdosis tinggi harus dihindari selama kehamilan, misalnya obat oral.

Meski begitu, produk topikal di pasaran yang memiliki kandungan tersebut telah dilaporkan aman oleh American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG).

Untuk lebih jelasnya, lebih baik tanyakan kepada dokter kandungan terlebih dahulu jika ingin menggunakan produk dengan kandungan asam salisilat.

Baca juga: Manfaat Asam Salisilat untuk Kulit Berjerawat

3.Hidrokuinon

Ini adalah produk resep yang digunakan untuk mencerahkan kulit atau mengurangi pigmentasi kulit, yang bisa juga disebabkan karena kehamilan.

Tidak ada bukti keterkaitan antara penggunaan produk mengandung hidrokuinon dengan kondisi cacat bawaan pada bayi atau efek samping lainnya terhadap kehamilan.

Namun, karena tubuh bisa menyerapnya dalam jumlah yang signifikan dibandingkan dengan bahan lain, maka sebaiknya batasi penggunannya selama kehamilan.

Baca juga: Jangan Asal Gunakan Produk Mengandung Hidrokuinon, Ini Akibatnya

4. Ftalat
Ftalat adalah bahan kimia yang dapat mengganggu kinerja hormon endokrin, yang banyak ditemukan di banyak produk kecantikan dan perawatan tubuh.

Dalam beberapa penelitian terhadap hewan, paparan ftalat berkaitan dengan disfungsi reproduksi dan hormon yang serius.

Meski begitu, beberapa penelitian yang dilakukan pada manusia juga mendukung temuan ini.

Potensi gangguan terhadap endokrin juga semakin banyak dipelajari oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) dan organisasi medis profesional karena potensi pengaruh negatifnya terhadap kesehatan reproduksi bawaan.

Kosmetik adalah sumber utama paparan ftalat. Sementara ftalat paling umum yang bisa kita temukan dalam produk kecantikan adalah diethylphthalate (DEP).

Baca juga: Tren Penggunaan Bahan Alami Utuh dalam Produk Kecantikan

5. Formaldehida
Kandungan ini memang jarang digunakan sebagai pengawet atau disinfektan dalam produk kecantikan karena bersifat karsinogen.

Selain itu, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) produk dengan formaldehida juga dapat meningkatkan risiko kemandulan dan keguguran.

Namun, ada beberapa bahan kimia yang melepas formaldehida yang biasa ditemukan di dalam produk kosmetik, dengan efek berbahaya yang serupa.

Environmental Working Group mencatat beberapa bahan yang dimaksud antara lain:

  • Bronopol.
  • Hidantoin DMDM.
  • Diazolidinyl urea.
  • Hidroksimetilgisinat.
  • Imidazolidinyl urea.
  • Quaternium-15.
  • 5-bromo-5-nitro-1,3-dioxane.

Baca juga: Pakai Skin Care Berbeda-beda Merek Bisa Berbahaya, Apa Alasannya?

6. Tabir surya kimiawi
Oxybenzone dan turunannya adalah filter ultraviolet (UV) yang paling sering digunakan dalam tabir surya.

Meski terbukti efektif untuk melindungi kulit, tetapi ada potensi merugikan terhadap kesehatan dan lingkungan di balik efek oxybenzone.

Karena dikenal sebagai bahan kimia yang mengganggu sistem endokrin, penggunaan produk dengan oxybenzone selama kehamilan dapat mengganggu hormon dan menyebabkan kerusakan permanen pada ibu dan bayi.

Sebuah penelitian pada hewan di tahun 2018 menyimpulkan bahwa paparan oxybenzone selama kehamilan pada level yang biasa digunakan oleh manusia dapat menyebabkan perubahan permanen pada kelenjar susu dan laktasi.

Beberapa penelitian lainnya yang juga dilakukan pada hewan mengaitkan bahan kimia tersebut dengan kerusakan janin permanen, kemungkinan berkaitan dengan perkembangan kondisi neurologis di masa dewasa, seperti penyakit Alzheimer.

Baca juga: Memilih Tabir Surya Sesuai Kondisi Kulit

Meskipun mungkin tidak bisa lagi menggunakan produk yang biasa digunakan sebelum masa kehamilan, namun tentunya ibu melakukan itu demi calon buah hati.

Untuk mengetahui secara pasti mengenai bahan-bahan skin care apa saja yang tidak bisa kamu gunakan selama kehamilan, berkonsultasilah dengan dokter kandungan atau dokter kulit terlebih dahulu untuk mendapatkan saran perawatan yang tepat.

Selain mengetahui tentang kandungan skin care yang berbahaya bagi ibu hamil, ketahui pula kombinasi kandungan skin care yang tidak bisa digunakan bersamaan.

Baca juga: 6 Kombinasi Kandungan Skin Care yang Sebaiknya Dihindari

 



Sumber Healthline
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X