Apakah Tambalan Amalgam Masih Layak Dipakai?

Kompas.com - 26/02/2021, 08:26 WIB
Ilustrasi thinkstockphotosIlustrasi

Untuk mengatasi hal tersebut, saat ini diterapkan konsep intervensi minimal dalam pembuangan lesi gigi berlubang, yaitu pembuangan lesi hanya dilakukan pada bagian gigi yang terinfeksi dan meninggalkan bagian gigi yang sehat, bebas bakteri, dan masih dapat dilakukan pengembalian mineral gigi (remineralisasi).

Baca juga: Mengenal Teknik Menyikat Gigi yang Tepat untuk Cegah Plak

Tujuan utama konsep intervensi minimal adalah untuk menjaga struktur gigi selama proses pembuangan lesi gigi berlubang, mempertahankan jaringan sehat yang dapat diperbaiki secara biologis sebanyak mungkin dan mempertahankan vitalitas gigi selama mungkin.

Penerapan konsep intervensi minimal dalam penambalan gigi saat ini didukung oleh perkembangan bahan tambal gigi yang lebih baik dalam hal sifat kimia, sifat mekanis, dan estetika.

Baca juga: Waspadai Dampak Kebiasaan Mengertakkan Gigi

Apakah tambalan gigi amalgam aman digunakan?

Dilaporkan berbagai efek buruk dapat timbul dari tambalan gigi amalgam akibat kebocoran merkuri, jika dosisnya melebihi dosis normal di tubuh, antara lain: peradangan mukosa mulut; lesi pada rongga mulut yang berupa penebalan, berwarna kemerahan dan dikelilingi garis putih; peradangan gusi; dan sariawan.

Namun hal tersebut dapat langsung hilang setelah tambalan amalgam dilepas.

Data ilmiah lain pada tahun 2011 menunjukkan bahwa tambalan gigi amalgam merupakan sumber utama beban total merkuri di tubuh manusia.

Hal ini dibuktikan dengan studi otopsi yang menemukan 2 sampai 12 kali lebih banyak merkuri dalam jaringan tubuh individu dengan gigi amalgam.

Pemeriksaan otopsi adalah penelitian yang paling berharga dan terpenting untuk memeriksa beban total merkuri di tubuh yang disebabkan amalgam. Studi otopsi ini telah menunjukkan secara konsisten bahwa banyak individu dengan tambalan gigi amalgam memiliki tingkat keracunan merkuri di otak atau ginjal mereka.

Hasil penelitian lain yaitu tidak ada korelasi antara kadar merkuri di dalam darah atau urine dengan kadar merkuri dalam jaringan tubuh atau tingkat keparahan gejala klinis.

Baca juga: Mengenal Penyebab Keracunan Merkuri dan Cara Mengatasinya

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
RECIPES
SUP PANGSIT
SUP PANGSIT
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X