Kompas.com - 26/02/2021, 08:34 WIB
Ilustrasi mesin pencarian Google. SHUTTERSTOCKIlustrasi mesin pencarian Google.

KOMPAS.com - Mesin pencari Google menjadi salah satu sumber yang banyak dimanfaat masyarakat dunia untuk mencari informasi di internet.

Data Editor Google News Lab, Simon Rogers menyebutkan, banyak orang beralih ke Google untuk mempelajari tentang berbagai kemampuan.

Lima hal yang paling banyak dipelajari selama pandemi, antara lain:

"Ini trending (pencarian populer) di seluruh dunia, terjadi di mana-mana," ungkap Simon dalam konferensi pers virtual, Kamis (25/2/2021).

Baca juga: Banyak Warganet Indonesia Cari Tahu Kapan Covid-19 Berakhir Lewat Google

Data tersebut dihimpun dari Google Trends selama periode 1 Januari 2020 hingga 31 Januari 2021 atau selama 13 bulan.

Adapun Google Trends menyediakan grafik statistik tentang topik-topik yang paling banyak dicari oleh pengguna Google.

Dalam kesempatan tersebut, Simon memaparkan tingginya pencarian tentang Covid-19 atau virus corona selama setahun terakhir.

Ini bahkan melebihi pencarian tentang cuaca yang biasanya selalu menjadi pencarian tertinggi di Google.

"Orang-orang sangat "kelaparan" dengan informasi yang bisa mereka percaya tentang virus corona. Mereka sangat ingin tahu tentang apa yang sedang terjadi saat ini di dunia," kata Simon.

Selain tentang mempelajari sesuatu, pencarian tentang metafisika juga tinggi selama pandemi.

Beberapa topik yang paling banyak dicari seperti Tuhan", "kebahagiaan" dan "empati".

Setahun terakhir, kata "harapan (hope)" juga lebih sering ditelusuri di Google daripada sebelumnya.

Baca juga: Setahun Pandemi, Topik Harapan Populer di Pencarian Google

Memasak banyak diminati selama pandemi

Google Trends bukan satu-satunya sumber data yang menemukan bahwa aktivitas di dapur atau memasak menjadi salah satu aktivitas paling diminati selama pandemi.

Universitas Indonesia (UI) sebelumnya pernah merilis beberapa hobi yang populer dilakukan selama masa pandemi.

Peneliti UI Devie Rahmawati menjelaskan, penelitian dilakukan dengan mengamati aktivitas masyarakat di media sosial Twitter.

"Kami menggunakan radar inventory, sebuah alat pemindai percakapan sosial di dunia digital. Setiap bulannya, kami mengamati sekitar 140 juta tweet berbahasa Indonesia," ujar Devie melalui keterangan tertulis dan telah diberitakan oleh Kompas.com, Senin (1/2/2021).

Baca juga: 7 Hobi yang Populer Selama Pandemi, Ada Apa Saja?

Selama delapan bulan penelitian, yakni sejak Maret hingga November 2020, kata Devie, pihaknya menemukan beberapa aktivitas atau hobi baru yang tergolong menarik, salah satunya memasak.

Beragan tutorial memasak atau membuat roti buatan sendiri, misalnya, banyak beredar di media sosial. Menjadikan aktivitas memasak dan membuat kue sebagai hobi baru.

Bahkan, tidak sedikit orang yang menjadikan hobi tersebut menjadi sumber pendapatan baru di masa pandemi.

Dari kalangan selebriti, penyanyi Afgansyah Reza, misalnya, juga menjajal aktivitas memasak di masa pandemi.

Mengutip pemberitaan Kompas.com, Agustus 2020, aktivitas tersebut juga direkam pelantun "Sadis" itu dengan kamera dan dibagikan ke kanal YouTube-nya dengan nama konten Lost in Recipes.

Baca juga: Hobi Baru Afgan Selama Pandemi, Masak Sambil Belajar Bahasa Asing

Salah satu menu masakan yang dipelajarinya adalah masakan Thailand.

"Konsep cooking show saya di YouTube ini adalah belajar masak sekalian belajar bahasa."

"Misalnya masakan Thailand, saya harus ngafalin semua bahannya dalam bahasa Thailand dan saya masaknya juga dipandu orang Thailand," kata Afgan kepada Kompas.com, Selasa (4/8/2021).

Sementara cara membuat masker kain dan hand sanitizer juga banyak ditelusuri warganet selama pandemi karena merupakan kebutuhan penting selama pandemi.

Masker bedah dan N95 yang sempat langka di awal pandemi membuat otoritas kesehatan menyarankan masyarakat memakai masker kain saat beraktivitas sehari-hari.

Sementara dua jenis masker tersebut lebih diprioritaskan untuk tenaga kesehatan.

Maka tak heran jika kondisi tersebut membuat banyak masyarakat yang mulai membuat masker kain sendiri.

Sama halnya dengan hand sanitizer yang sempat langka di pasaran. Harga hand sanitizer di awal pandemi bahkan sempat mencapai ratusan ribu Rupiah.

Lonjakan kebutuhan hand sanitizer saat itu bahkan memunculkan banyak oknum yang membuat produk hand sanitizer dengan bahan berbahaya.

Kondisi itu membuat sejumlah laboratorium dan pihak universitas pun mulai mempelajari bagaimana membuat cairan hand sanitizer sendiri, termasuk kalangan masyarakat.

Baca juga: YLKI: Laporan Konsumen Saat Pandemi Didominasi soal Harga Masker dan Hand Sanitizer



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X