Kompas.com - 03/03/2021, 14:14 WIB
Petugas menyiapkan vaksin COVID-19 sebelum disuntikkan kepada petugas PMI di Kantor PMI Kota Tangerang, Banten, Kamis (11/2/2021). Kemeterian Kesehatan hingga Kamis (11/2) telah memberikan vaksin COVID-19 Sinovac tahap pertama kepada 1.017.186 orang, sementara untuk vaksinasi tahap kedua sudah diberikan kepada 345.605 orang. ANTARA FOTO/Fauzan/aww. ANTARA FOTO/FAUZANPetugas menyiapkan vaksin COVID-19 sebelum disuntikkan kepada petugas PMI di Kantor PMI Kota Tangerang, Banten, Kamis (11/2/2021). Kemeterian Kesehatan hingga Kamis (11/2) telah memberikan vaksin COVID-19 Sinovac tahap pertama kepada 1.017.186 orang, sementara untuk vaksinasi tahap kedua sudah diberikan kepada 345.605 orang. ANTARA FOTO/Fauzan/aww.

Produsen vaksin Moderna merilis pernyataan pada akhir Januari 2021, yang menyatakan bahwa vaksin mereka masih menawarkan perlindungan tidak hanya terhadap varian B.1.1.7 tetapi juga varian B.1.351, yang pertama kali diidentifikasi oleh para ilmuwan di Afrika Selatan.

Baca juga: Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Masuk ke Indonesia, Perlukah Pakai Perlindungan Ekstra?

Pentingnya disiplin protokol kesehatan
Masuknya mutasi virus corona B.1.1.7 idealnya bisa menjadi pengingat bagi kita untuk lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Apalagi, strain ini dikabarkan lebih mudah menular.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Endokrin Metabolik Diabetes, Dr dr Indra Wijaya, MKes, SpPD-KEMD, FINASIM mengatakan, meskipun belum pasti apakah ada perbedaan gejala antara virus corona B.1.1.7 dan varian sebelumnya, penting untuk memperketat penerapan protokol 5M.

Adapun 5M adalah memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilisasi.

Untuk perlindungan tambahan, memakai dua masker juga bisa diterapkan, terutama jika berada di lokasi yang memiliki risiko penularan tinggi.

"Kita harus selalu menganggap kemungkinan terburuk dulu dan kemungkinan tingkat penularan lebih tinggi dan lebih menular 30-50 persen," ungkap.

Sementara itu, Ari mengatakan pemerintah perlu memberikan perhatian penuh terhadap situasi saat ini, meskipun keganasan virus corona B.1.1.7 masih menjadi pertanyaan.

Termasuk mempercepat jalannya program vaksinasi Covid-19 yang kini sudah berjalan dan memperketat pintu-pintu masuk ke Indonesia.

"Pintu-pintu masuk Indonesia tetap harus dijaga ketat untuk men-skrining adanya WNI atau WNA yang masuk Indonesia dengan membawa virus strain B.1.1.7 ini," ujar Ari.

Guru besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI itu memperingatkan agar strain ini tidak menyebabkan gelombang kedua di Indonesia.

"Tetap 3M dan juga konsisten skrining pada pintu-pintu masuk Indonesia, 3T (testing, tracing, treatment) harus ketat, dan support pemerintah untuk pelaksanaan sekuencing ditingkatkan," ungkapnya.

Baca juga: Perlukah Persiapan saat Akan Menerima Vaksin Covid-19?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.