Kompas.com - 03/03/2021, 20:54 WIB
Ilustrasi diet, lingkar perut shutterstockIlustrasi diet, lingkar perut
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Di masa pandemi Covid-19 yang masih berlangsung ini, semua orang dianjurkan untuk tetap menjaga sistem imun atau kekebalan tubuh agar terhindar dari infeksi virus.

Kendati demikian, beberapa orang tetap berusaha menurunkan berat badan dengan melakukan diet ketat.

Padahal, diet yang tidak dilakukan dengan benar dapat berimbas pada penurunan sistem kekebalan tubuh.

Dokter Spesialis Gizi Klinik MRCCC Siloam Hospital, Dr Inge Permadhi, SpGK mengatakan, penurunan berat badan, khususnya di masa pandemi Covid-19 ini tidak boleh dilakukan sembarangan.

Orang-orang harus melakukan diet yang sehat dan sesuai dengan syarat penurunan berat badan yang sudah dianjurkan oleh dokter atau ahli gizi maupun diet.

Baca juga: Bahaya Diet dengan Cara yang Keliru

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Penurunan berat badan kan syaratnya kira-kira setengah sampai satu kilogram per minggu," terangnya kepada Kompas.com, Rabu (3/2/2021).

"Diet itu dilakukan dengan mengurangi 500-1000 kalori dari kebutuhan kalori harian per kilogram berat badan," sambung dia.

Menurut dia, memang di dalam ilmu diet ada metode penurunan berat badan rendah karbohirat yang dibagi menjadi tiga yakni moderate-carbs diet, low-carbs diet, dan very low-carbs diet.

"Biasanya, low-carbs diet itu hanya makan kurang dari 2000 kalori baik laki-laki maupun perempuan. Sementara very low-carbs diet bisa mengurangi lagi 800 kalori atau lebih di bawah," jelasnya.

Baca juga: Bahaya Diet Rendah Karbohidrat

Meski begitu, dokter Inge menyarankan, bahwa very low-carbs diet tetap harus memiliki komposisi asupan makanan yang bagus.

Jadi, ada karbohirat, protein, dan lemak karena ketiganya merupakan kebutuhan dasar bagi orang-orang dapat menjalani hidup yang sehat.

Di samping itu juga harus ada kecukupan vitamin dan mineral yang sesuai.

"Kalau seseorang diet ketat tapi tidak sesuai dengan komposisi yang baik, akibatnya dia pasti kemungkinan besar akan kekurangan zat gizi," ungkapnya.

Dampak diet ketat di masa pandemi

Kekurangan gizi adalah salah satu pemicu sistem kekebalan tubuh menurun, terutama di masa pandemi Covid-19.

Apalagi, jika pada dasarnya seseorang sudah kegemukan atau obesitas dan memiliki penyakit bawaan.

"Jadi dietnya saja sebenarnya tidak menjadi masalah, tapi kalau ada sakit pembawanya itu yang menjadi masalah," tuturnya.

Sebab, kombinasi dari diet ketat yang tidak sehat dan penyakit bawaan karena obesitas membuat imun tubuh menurun. Sehingga mudah tertular penyakit infeksi.

"Maka diet ketat dengan asupan gizi yang kurang terpenuhi, khususnya protein, itu dapat berisiko menurunkan daya tahan tubuh di masa pandemi ini," jelasnya.

Untuk itu, dokter Inge mengingatkan bagi orang-orang dengan masalah kegemukan yang ingin tetap melakukan diet di masa pandemi ini agar mulai memperhatikan asupan makanan mereka.

"Diet itu tidak ada masalah, tapi juga tidak boleh asal-asalan. Walaupun memilih diet dengan jumlah kalori yang sangat sedikit, komposisi gizinya tetap harus baik dan vitamin serta mineralnya tidak kurang," imbuh dia.

Baca juga: 5 Cara Menentukan Diet Terbaik untuk Tubuh

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.