Kompas.com - 09/03/2021, 10:19 WIB
Ilustrasi PIXABAYIlustrasi

 

KOMPAS.com - Dengan lebih banyak orang yang berfokus pada peningkatan kesehatan dan kebugaran, penggunaan vitamin dan suplemen juga meningkat di masa pandemi.

Faktanya, industri suplemen nutrisi mengalami pertumbuhan tertinggi dalam lebih dari 2 dekade, dengan peningkatan sebesar 12,1 persen pada tahun 2020.

Peningkatan ini diharapkan berlanjut hingga 2021, dengan banyak orang yang ingin mendukung kesehatan mereka melalui suplemen.

Karena itu, kita mungkin bertanya-tanya mana daftar suplemen yang menduduki puncak. Nah, untuk mengetahuinya, berikut adalah 7 vitamin dan suplemen teratas pada tahun 2021.

Baca juga: 6 Vitamin dan Suplemen yang Bantu Atasi Gerd

1. Menurunkan stres

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tahun 2020 dipenuhi dengan peristiwa yang mengubah hidup, sehingga menyebabkan peningkatan masalah kesehatan mental dan stres di semua kelompok umur.

Akibatnya, banyak orang beralih ke suplemen untuk mendukung kesehatan mental mereka.

Faktanya, sebuah laporan oleh Coherent Market Insights mengantisipasi tingkat pertumbuhan sebesar 8,5 persen di pasar suplemen kesehatan otak dan mental selama 6 tahun ke depan.

Suplemen seperti magnesium, vitamin B kompleks, L-theanine, melatonin, valerian, chamomile, dan cannabidiol (CBD) menjadi lebih populer karena terkait dengan tidur yang lebih baik dan menurunkan tingkat stres, serta kecemasan.

Selain itu, adaptogen dalam obat herbal semakin populer karena dapat mendukung respons stres tubuh.

Secara khusus, ashwagandha dan rhodiola adalah ramuan Ayurveda populer yang dapat menurunkan kecemasan, kadar kortisol, dan gejala depresi ringan. 

Meskipun ramuan ini dapat bermanfaat bagi kesehatan mental, tetapi kita harus selalu berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan sebelum mengonsumsi suplemen baru.

Apalagi, jika kita sudah menjalani pengobatan untuk mengatasi depresi, kecemasan, atau penyakit mental lainnya.

Baca juga: 8 Aturan Minum Suplemen Vitamin dan Mineral yang Perlu Diperhatikan

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

2. Mendukung masalah kulit

Suplemen kecantikan dan perawatan kulit tumbuh secara signifikan tahun ini. Baik itu satu sendok kolagen dalam smoothie atau sejumput kunyit pada salad, mengatasi masalah kulit dari dalam ke luar akan menjadi prioritas yang berkembang.

Menurut Google Ads, permintaan penelusuran untuk kolagen meningkat 33 persen dari Maret-Desember 2020, yang menunjukkan adanya peningkatan minat pada kecantikan sebagai bagian dari industri suplemen.

Bahan peningkat kecantikan seperti peptida kolagen, vitamin C, omega-3, asam hialuronat, ceramide, dan campuran teh hijau dan sayuran yang kaya antioksidan menjadi yang teratas.

Secara khusus, diet kaya peptida kolagen, vitamin C, dan omega-3 dikaitkan dengan kesehatan kulit yang lebih baik dan lebih sedikit tanda penuaan, misalnya keriput, serta garis halus.

Terlepas dari popularitasnya, jangan berharap suplemen ini mengimbangi perawatan kulit yang buruk dan praktik gaya hidup.

Sebab, mengenakan tabir surya setiap hari, mendapatkan tidur yang berkualitas, berolahraga secara teratur, dan mengonsumsi makanan bergizi tetap menjadi kunci kesehatan kulit.

Baca juga: Kenali Manfaat Konsumsi Minuman Kolagen

3. Meningkatkan sistem imun

Pandemi Covid-19 mengajari kita semua untuk memprioritaskan kesehatan. Dengan demikian, terdapat peningkatan 50 persen yang dilaporkan pada konsumen yang mencari suplemen penunjang kekebalan atau sistem imun tubuh.

Suplemen yang mengandung bahan-bahan seperti seng, selenium, vitamin B kompleks, vitamin C, dan D, serta solusi kesehatan alternatif seperti elderberry, echinacea, astragalus, kunyit, dan jahe banyak peminatnya.

Lebih lanjut, beberapa pakar industri percaya bahwa ekstrak jamur obat akan menjadi bagian dari tren ini.

Secara khusus, jamur chaga, cordyceps, surai singa, dan reishi telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk memperkuat sistem kekebalan.

Industri jamur obat diproyeksikan bernilai 261,8 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,7 triliun pada tahun 2026.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun berpotensi berperan dalam mendukung sistem imun tubuh, tidak ada suplemen nutrisi yang terbukti dapat mencegah kita dari penularan Covid-19.

Baca juga: Diet Ketat di Masa Pandemi Berisiko Menurunkan Sistem Kekebalan Tubuh

4. Menambahkan Vitamin D

Vitamin D terus memimpin muatan sebagai nutrisi teratas untuk kesehatan secara keseluruhan.

Vitamin ini memainkan peran kunci dalam kekebalan, kesejahteraan mental, kesehatan tulang dan kulit, serta melindungi dari penyakit kronis.

Secara khusus, vitamin ini menjadi berita utama pada tahun 2020 karena berbagai penelitian mengaitkan kadar vitamin D yang rendah dengan peningkatan risiko komplikasi COVID-19.

Kendati demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut antara hubungan keduanya.

Meskipun kulit kita secara alami menghasilkan vitamin D saat terkena sinar matahari, kekhawatiran tentang sinar ultraviolet (UV) telah mendorong banyak konsumen untuk melengkapinya dengan vitamin D.

Maka tidak heran, apabila pasar vitamin D diperkirakan akan meningkat hingga mencapai 7,2 persen pada tahun 2025 mendatang.

Baca juga: Apa Dampaknya jika Bayi dan Anak Kekurangan Vitamin D?

Halaman:


Sumber Healthline
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X