Kompas.com - 09/03/2021, 16:13 WIB
Sejumlah warga negara asing (WNA) dengan menggunakan baju hazmat tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (2/1/2021). Guna mencegah masuknya varian baru virus corona, Pemerintah Indonesia melarang seluruh WNA masuk wilayah Indonesia mulai 1 Januari hingga 14 Januari 2021 kecuali WNA yang memegang visa diplomatik, visa dinas yang terkait kunjungan resmi pejabat asing setingkat menteri ke atas, pemegang izin tinggal diplomatik dan izin tinggal dinas serta pemegang Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) dan Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). ANTARA FOTO/Fauzan/wsj. ANTARA FOTO/FAUZANSejumlah warga negara asing (WNA) dengan menggunakan baju hazmat tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (2/1/2021). Guna mencegah masuknya varian baru virus corona, Pemerintah Indonesia melarang seluruh WNA masuk wilayah Indonesia mulai 1 Januari hingga 14 Januari 2021 kecuali WNA yang memegang visa diplomatik, visa dinas yang terkait kunjungan resmi pejabat asing setingkat menteri ke atas, pemegang izin tinggal diplomatik dan izin tinggal dinas serta pemegang Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) dan Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP). ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.

KOMPAS.com - Sejak mutasi virus corona asal Inggris atau varian B.1.1.7 telah dinyatakan masuk ke Indonesia pada pekan lalu, masyarakat diimbau untuk semakin memperketat protokol kesehatan.

Apalagi, baru-baru ini Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan penambahan empat kasus infeksi virus corona varian B.1.1.7 di Indonesia.

Adapun keempat kasus yang terkonfirmasi itu ditemukan di Palembang, Sumatera Selatan pada 11 Januari 2021, Kalimantan Selatan pada 6 Januari 2021, Balikpapan, Kalimantan Timur pada 12 Februari 2021, dan Medan, Sumatera Utara pada 28 Januari 2021.

Meski saat ini keempat pasien virus corona B.1.1.7 itu sudah dinyatakan sembuh, namun pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tetap berupaya melakukan surveilans terhadap kontak erat dari empat kasus Covid-19 tersebut.

Sebab, varian baru corona asal Inggris ini memiliki kemampuan untuk menularkan virus dengan lebih cepat.

Baca juga: 3 Sampel Mutasi Virus Corona B.1.1.7 Ditemukan di Jakarta

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Science memperkirakan varian B.1.1.7 memiliki tingkat penularan lebih tinggi dari yang sebelumnya yakni sebesar 43 persen hingga 90 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal yang sama juga diungkapkan oleh dokter spesialis paru, Dr Erlina Burhan, MSc, SpP(K) dalam virtual event bersama Kalbe Farma melalui aplikasi Zoom, Selasa (9/3/2021).

Menurut dia, dampak klinis dari varian B.1.1.7 adalah lebih cepat menular. Tetapi, sejauh ini belum ada penelitian yang menunjukkan keparahan penyakit.

"Orang-orang yang membawa varian virus baru harus segera diambil genom sequencing-nya untuk mengetahui lebih lanjut mengenai varian tersebut," terangnya.

Oleh karena itu, dr Erlina merekomendasikan percepatan program vaksinasi agar masyarakat dapat segera membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Varian baru dari SARS-COV-2 ini sendiri awalnya ditemukan di Inggris Tenggara pada musim gugur lalu.

Para peneliti di London School of Hygiene and Tropical Medicine memprediksi jumlah kematian akibat varian B.1.1.7 akan lebih tinggi di Inggris daripada jumlah yang tercatat pada tahun 2020.

Baca juga: Vaksin AstraZeneca Tiba di Indonesia, BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Darurat

Penularan lebih tinggi

Dikutip dari laman News Medical, peningkatan varian B.1.1.7 ini dinilai lebih tinggi dari 307 garis keturunan SARS-CoV-2 lainnya.

Di samping itu, varian B.1.1.7 juga memiliki viral load yang lebih tinggi sehingga lebih mungkin untuk menyebarkan virus kepada orang lain.

Meski begitu, para peneliti tidak dapat mengonfirmasi hubungan antara varian B.1.1.7 dan tingkat keparahan infeksi. Tetapi, ini bisa jadi karena waktu yang terbatas untuk mengumpulkan data tentang varian.

Bahkan, penularan varian B.1.1.7 diperkirakan 65 persen lebih tinggi daripada varian lain di tiga wilayah di Inggris yang paling terkena dampak virus corona.

Dengan munculnya varian baru yang sangat infeksius, para peneliti menganjurkan orang-orang untuk tetap berada di dalam rumah, menjalankan protokol, dan sebisa mungkin mendapatkan vaksin.

Baca juga: Mutasi Virus Corona B.1.1.7, Bagaimana Efektivitas Vaksin?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.