Kompas.com - 10/03/2021, 07:31 WIB
Ilustrasi kesepian menghadapi pandemi SHUTTERSTOCK/evrymmnt Ilustrasi kesepian menghadapi pandemi

KOMPAS.com - Merasa kesepian adalah hal yang normal dan merupakan pengalaman setiap orang.

Situasi ini semakin banyak dirasakan di masa pandemi Covid-19, ketika interaksi sosial mungkin tak bisa seterbuka sebelumnya.

Namun, menghadapi periode kesepian yang intens bisa memicu masalah kesehatan mental yang lebih besar.

Menurut terapis dan co-founder Family Addiction Specialist di New York City, Lin Sternlicht, kesepian terjadi ketika seseorang dalam keadaan sendiri. Namun, ini juga bisa menggambarkan perasaan seseorang dalam setting sosial.

"Jadi kesepian yang lebih kepada kekurangan koneksi, bukan cuma dalam arti sendirian," katanya, seperti dilansir HuffPost.

Baca juga: Kesepian Dapat Melemahkan Kekebalan Tubuh, Begini Cara Mengatasinya

Lebih lanjut, orang-orang ekstrovert lebih rentan mendapatkan dampak negatif dari kesepian. Sebab, mereka lebih berisiko mengalami penurunan suasana hati ketika sendiri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tapi, terkadang kita juga membutuhkan "me time" untuk kembali menyegarkan diri dari rutinitas. Lalu, seperti apa kesepian yang dianggap tidak sehat?

Menurut psikolog klinis berlisensi dan CEO Madison Park Psychological Services di New York City, Yasmine Saad, ketika kita berpindah dari waktu sendiri yang sehat ke kesepian kronis, kita akan terlebih dahulu memasuki ruang negatif di kepala kita.

Hal ini biasa terjadi ketika seseorang mulai fokus pada perasaan putus koneksi dengan orang lain atau kehilangan dalam hubungan.

Beberapa orang mungkin tidak menyadari perubahan itu, tetapi tubuh dan pikiran mereka akan tetap menunjukkan dampak negatif dari sendirian.

"Kita akan lebih fokus dengan apa yang hilang. Hidup kita jadi lebih berat, tubuh dan pikiran akan menunjukkan gejala merefleksikan apa yang terasa berat itu," ujarnya.

Baca juga: Ilmuwan Tunjukkan Seperti Apa Reaksi Saraf Otak saat Kesepian

Berikut beberapa tanda kesepian yang kamu rasakan sudah cukup mengganggu kesehatan mentalmu:

1. Merasa kesepian di antara orang-orang lain

Ketika kamu merasa kesepian padahal berada di sekitar orang lain atau berada dalam satu hubungan, itu bisa mengarah pada masalah kesehatan mental atau kurangnya keterhubungan dengan orang lain.

Cobalah tanya pada dirimu sendiri apa yang menyebabkan perasaan itu muncul.

Kurang terhubung bisa jadi artinya kamu perlu berinteraksi dengan orang-orang yang punya kesamaan denganmu, yang membuatmu tertarik, atau yang membuatmu merasa memiliki nilai, moral dan kepribadian yang sama.

Baca juga: Mengapa Generasi Milenial Sering Merasa Kesepian?

2. Lebih sering lelah

Menurut direktur klinik aplikasi grup terapi virtual, Sesh, Kruti Quazi, orang-orang yang sedang menghadapi kesepian kronis mungkin merasa lebih kelelahan daripada biasanya.

Ketika berada pada kondisi tersebut, mencoba terhubung dengan orang lain secara sosial bisa membuat mereka merasa semakin lelah.

Jika kondisi ini terus terjadi, orang tersebut dapat mengalami gangguan tidur, sistem kekebalan tubuh yang melemah, pola makan tidak sehat, hingga dampak pada emosional, mental, dan kesejahteraan fisik.

Baca juga: 5 Cara Orang Sukses Atasi Kelelahan Fisik dan Emosional

3. Memerlukan usaha lebih untuk terhubung dengan orang lain

Terhubung dengan orang lain rasanya dulu sangat mudah, tapi sekarang kamu butuh usaha lebih untuk bisa terhubung secara mendalam dengan orang lain.

Jika kamu merasakan itu, kemungkinan ada tanda masalah yang lebih besar.

Kemungkinan tersebut semakin mendekati kebenaran jika relasi yang kamu upayakan rasanya hanya  di permukaan saja dan tidak membuatmu "terpenuhi"

"Putus koneksi itu mungkin terasa seperti tidak pernah usai," katanya.

Baca juga: Nasihat Ahli untuk Para Jomblo Menghadapi Kesepian di Masa Pandemi

4. Mulai membangun gejala depresi

Menurut terapis pernikahan dan keluarga berlisensi dari Louisiana, Susan Harrington, kesepian yang berkepanjangan sering kali berkaitan dengan depresi.

Kenali gejala depresi seperti perasaan terisolasi yang berkelanjutan, pikiran-pikiran negatif, perasaan seperti mati rasa, dan/atau perubahan yang tidak dapat dijelaskan dalam kebiasaan tidur dan makan.

Tanda-tanda lain yang jarang dikenali adalah mudah tersinggung, merasa bersalah, berbicara atau bergerak lebih lambat, dan/atau gelisah.

Baca juga: Kesedihan Berlangsung Lama Bisa Jadi Tanda Depresi, Kenali Cirinya

5. Membangun kebiasaan buruk

Ketika kita mengalami sesuatu yang tidak kita ketahui cara mengelolanya atau menghilangkannya, tanpa disadari kita cenderung membangun kebiasaan tidak sehat untuk mengatasinya.

Sternlicht mengatakan, dia sering melihat kesepian memanifestasikan diri seseorang dalam perilaku seperti makan berlebihan, merokok, penyalahgunaan narkoba atau konsumsi alkohol yang berlebihan.

Perilaku ini, kata dia, berfungsi sebagai coping mechanisms (mekanisme penanggulangan) bagi individu yang merasa sendirian untuk mematikan emosi mereka dan merasa terhubung dengan suatu substansi daripada dengan individu lain.

"Penelitian menunjukkan bahwa perasaan kesepian mungkin merupakan faktor kunci mengembangkan perilaku kecanduan," ujarnya.

Mekanisme penanggulangan ini juga dapat menyebabkan rasa terisolasi, yang pada akhirnya berubah menjadi lingkaran setan kesepian dan sabotase diri.

Baca juga: Sedang Depresi? Simak Panduan Makan yang Tepat

6. Berpikir bunuh diri

Menurut konselor kesehatan mental berlisensi dan profesional penanganan trauma bersertifikasi dari Florida, Mary Joye, kesepian kronis bisa memicu pada perasaan kurang tujuan.

Beberapa orang bahkan mulai bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan seperti "mengapa aku di sini" atau berpikir "aku tidak ingin jadi beban lagi buat orang lain", dan sebagainya.

Kalimat terakhir sangat penting mendapatkan perhatian karena banyak diucapkan orang-orang yang berpikir untuk bunuh diri.

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.

Jika memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Sebab, kamu tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan untuk meringankan keresahan yang ada.

Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, kamu bisa mengakses situs Into the Light Indonesia di https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/.

Halaman:


Sumber HuffPost
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.