Kompas.com - 10/03/2021, 17:22 WIB
Vaksinator menunjukkan vaksin COVID-19 Sinovac saat pelaksanaan vaksinasi COVID-19 gelombang II di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jawa Tengah, Senin (22/2/2021). Pada vaksinasi gelombang kedua yang diprioritaskan kepada petugas pelayanan publik Pemprov Jateng (Aparatur Sipil Negara), TNI, Polri, pejabat BUMD, wartawan hingga atlet itu, Pemprov Jateng menargetkan minimal 1.000 penerima vaksin dalam satu hari. ANTARA FOTO/Aji Styawan/aww. ANTARA FOTO/AJI STYAWANVaksinator menunjukkan vaksin COVID-19 Sinovac saat pelaksanaan vaksinasi COVID-19 gelombang II di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jawa Tengah, Senin (22/2/2021). Pada vaksinasi gelombang kedua yang diprioritaskan kepada petugas pelayanan publik Pemprov Jateng (Aparatur Sipil Negara), TNI, Polri, pejabat BUMD, wartawan hingga atlet itu, Pemprov Jateng menargetkan minimal 1.000 penerima vaksin dalam satu hari. ANTARA FOTO/Aji Styawan/aww.

4. Dosis vaksin

Sejumlah penelitian menemukan bahwa perempuan menyerap dan memetabolisme obat secara berbeda dari laki-laki.

Perempuan seringkali membutuhkan dosis yang lebih rendah untuk efek yang sama.

Tetapi hingga tahun 1990-an, uji klinis obat dan vaksin sebagian besar tidak melibatkan perempuan.

"Dosis obat yang direkomendasikan secara historis didasarkan pada uji klinis yang melibatkan peserta laki-laki," kata Morgan.

Uji klinis saat ini memang menyertakan perempuan, tetapi dalam uji coba vaksin Covid-19, efek samping tidak cukup dipisahkan dan dianalisis berdasarkan jenis kelamin.

Peneliti juga tidak menguji apakah dosis yang lebih rendah mungkin sama efektifnya untuk wanita tetapi menyebabkan lebih sedikit efek samping.

Itulah mengapa, penting bagi penyedia layanan kesehatan untuk tetap menyampaikan potensi efek samping vaksin kepada penerima vaksin, sehingga mereka lebih siap dan tidak takut, terutama pada perempuan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tapi, jika nanti kamu perempuan dan merasa mengalami efek samping sementara laki-laki di sekitarmu tidak, tak perlu mengkhawatirkannya.

"Itu normal, dan kemungkinan mencerminkan kerja sistem kekebalan tubuh," kata Klein.

Baca juga: Mutasi Virus Corona B.1.1.7, Bagaimana Efektivitas Vaksin?

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.