Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 10/03/2021, 18:11 WIB
Sekar Langit Nariswari,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

Sumber Aljazeera

KOMPAS.com - Seniman tato di Iran masih terjebak dalam stigma negatif dan intimidasi. Meski bukan hal terlarang, namun para pelaku seni ini kerap dirundung rasa tidak aman dan tidak nyaman.

Belum berapa lama ini, Farshad Mirzaei dan rekan-rekannya memajang berbagai lukisan di sebuah galeri kecil di Tehran. Sekilas gambar yang dipamerkan nampak seram dan gelap.

Misalnya saja lukisan tengkorak dengan pisau warna warni di kepalanya atau wanita dengan kerangka tangan yang keluar dari mulutnya. Jelas bukan gambar yang ramah bagi semua orang di negara Islam itu.

Namun pameran ini bukannya tanpa alasan. Mirzaei yang merupakan seniman tato lokal ini sedang berusaha menghapuskan stigma buruk yang menempel di dirinya dan komunitasnya.

Gerakan ini untuk mengingatkan publik dan komunitasnya bahwa tato adalah ungkapan seni, bukan tindakan kriminal.

Baca juga: Seorang Pria Menutupi Semua Tato Tubuhnya Dalam Sehari, Apa Jadinya?

Pasalnya selama ini publik Iran masih menyimpan rasa tidak suka yang akut pada orang bertato, apalagi para seniman tato.

Ironisnya, seni tato semakin populer khususnya di kalangan anak muda di bawah 30 tahun. Peminatnya semakin tinggi meski rasa tidak sukanya masih bertahan di muka publik.

Dianggap legal

Sebenarnya tidak pernah ada hukum di Iran yang secara resmi menetapkan jenis kreativitas ini sebagai hal yang ilegal.

Sebaliknya, sejumlah pemimpin Syiah, mazhab Islam utama di Iran, tidak pernah menyatakannya sebagai hal yang haram kecuali jika menggambarkan hal yang cabul.

Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei bahkan pernah menyebutkan jika tato tidak haram dan menghalangi air wudhu. Karena itu, berwudhu dan mengerjakan salat tetap dianggap sah meski memiliki tato di tubuhnya.

Kenyataanya, nasib buruk masih terus dialami komunitas tato. Pihak otoritas menganggapnya identik dengan tren dunia barat, hal yang dipercaya adalah antitesis ajaran Islam.

Baca juga: Jangan Asal Punya Tato, Pahami Cara Rawat agar Tetap Kinclong

Sepasang warga Iran berjalan mengenakan masker di Enghelab Square, Teheran, Iran, untuk meminimalkan risiko tertular virus corona. Gambar diambil pada 26 Maret 2020.WANA NEWS AGENCY VIA REUTERS Sepasang warga Iran berjalan mengenakan masker di Enghelab Square, Teheran, Iran, untuk meminimalkan risiko tertular virus corona. Gambar diambil pada 26 Maret 2020.

Fakta pula jika memiliki tato akan menyulitkan proses pembaruan SIM. Ada pemahaman gambar tubuh ini adalah tanda gangguan kesehatan mental sehingga tidak layak berkendara.

Di luar ranah formal, anggapan buruk juga terus terbangun karena tayangan yang kerap menampilkan kriminal bertato. Hal yang kerap disiarkan oleh lembaga penyiaran negara ini.

Sementaraitu, para orang tua masih berharap tato hanya menjadi bentuk kenakalan anaknya dan bukan pilihan hidup. Mirzaei yang sudah 10 tahun berkecimpung dalam bidang ini bahkan belum mendapatkan pengakuan dari ayahnya.

Baca juga: Terselip Alasan Mulia di Balik Cristiano Ronaldo Tak Mau Tato Tubuhnya...

“Ayahku masih bertanya apakah aku tidak ingin mencari pekerjaan. Mereka belum menganggap jika seni tato bisa menjadi pekerjaan, hal yang didedikasikan selama hidup,” ujarnya seperti dikutip Al Jazeera.

Halaman:
Sumber Aljazeera
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com