Kompas.com - 18/03/2021, 15:39 WIB

KOMPAS.com - Tagar #StopAsianHate menjadi trending topic di Twitter menyusul kasus penembakan di Amerika Serikat yang menewaskan 6 perempuan Asia.

Rasialisme terhadap orang Asia di Amerika Serikat beberapa waktu belakangan memang semakin tinggi. Lembaga Stop AAPI Hate menyatakan, ada 3.800 insiden kebencian terhadap minoritas ini selama setahun belakangan.

Sebagian besar korbannya merupakan wanita, ditopang dengan anggapan bahwa wanita Asia berkarakter lemah lembut dan patuh. Diperkirakan kejadian rasialisme di lapangan jauh lebih tinggi karena masih banyak yang belum dilaporkan.

Peningkatan insiden kebencian pada Asia juga didukung dengan adanya pandemi Covid-19. Pelaku kebencian menilai bahwa corona hadir di Amerika dengan dibawa oleh kaum Asia.

Hal ini jelas tidak berdasar, namun tidak menghilangkan fakta bahwa rasialisme masih banyak ditemukan di dunia. Pelakunya juga beragam, mulai dari anak sampai orang tua.

Baca juga: Covid-19, Rasisme, dan Perubahan Iklim Jadi Perhatian Kaum Muda di Pemilu Amerika Serikat

Australian Human Right Commision menyebutkan, rasialisme muncul karena manusia kerap menghakimi satu sama lainya. Selain itu, sikap negatif ini juga buah dari rasa frustrasi atas masalah yang dihadapi.

Orang dengan tampilan fisik atau bahasa yang berbeda memang merupakan sasaran kebencian yang sangat mudah. Hal ini agaknya yang menjadi gambaran atas situasi yang terjadi di Amerika saat ini.

Faktanya, tidak ada alasan apa pun yang membenarkan sikap rasial manusia terhadap sesamanya. Secara biologis semua ras di dunia setara tanpa perbedaan kualitas.

Meski demikian, sikap rasial kerap terbentuk dari lingkungan sekitar. Pola pendidikan, orangtua, dan pengaruh orang sekitar menjadi salah satu hal yang membentuk pikiran negatif ini.

Karena itu, sangat penting untuk mendidik buah hati agar terhindari dari sikap rasial sejak dini.

Baca juga: F-PDIP Sebut Disdik DKI Jakarta Tak Serius Tindak Guru Rasis dan Politis

Mendidik anak agar tidak bersikap rasial sejak dini

Orangtua saat ini harus menyadari bahwa penting untuk mendidik anak menghargai perbedaan yang ada.

Pola pikir ini harus ditanamkan oleh orangtua sejak dini untuk menghalau pengaruh buruk yang kemudian menjadi kepribadian anak.

  • Usia 0 sampai 6 tahun

David Schonfeld, Direktur National Center for School Crisis and Bereavement mengatakan, tidak ada anak yang terlahir menjadi rasial atau pelaku diskriminasi.

Karena itu, tugas orangtua pada awalnya sebenarnya mudah dengan menekankan akan pentingnya toleransi dan kasih sayang. Beritahukan anak tentang perbedaan yang ada di sekitarnya.

Bisa dengan mencoba makanan suku lain, mempelajari bahasa asing atau nonton film dengan bintang ras yang berbeda. Kita juga bisa memberikan pelajaran dengan contoh kasus yang ada.

Misalnya saat ada pemberitaan soal kasus insiden kebencian, jelaskan tentang itu dengan sederhana. Sampaikan bahwa tindakan kekerasan bukanlah solusi atas masalah yang ada.

Tanamkan sikap menerima dan perasaan terbuka atas perbedaan yang ada. Kuncinya, dengan menyampaikannya secara sederhana agar dapat dipahami anak untuk mendorong sikap anti-rasial.

Baca juga: Sempat Dapat Perlakuan Rasis di Eropa, Raffi Ahmad: Gue Mah Cuek Saja

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

  • Usia 6 sampai 8 tahun

Anak dalam usia ini biasanya sangat peka dengan keadilan. Hal ini bisa menjadi landasan yang kuat untuk membicarakan kondisi yang terjadi di dunia.

Allison Briscoe-Smith, Ph.D., psikolog klinik di Berkeley, California mengatakan bahwa pendidikan anti-rasial bisa dilakukan dengan membiarkan anak bercerita soal pengalamannya sehari-hari.

Biarkan anak berpendapatan tentang apa yang dibicarakan atau dilakukan orang di sekitarnya. Biasakan bersikap jujur dan tidak meremehkan pendapat anak.

Kadangkala anak juga akan mencetuskan pertanyaan yang aneh mengenai kejadian yang diketahuinya. Bersikap tenang dan memberikan jawaban yang masuk akal dan realistis adalah hal terbaik yang bisa dilakukan para orangtua.

Baca juga: 5 Dampak Jangka Panjang yang Dirasakan Anak Korban Kekerasan

  • Usia 9 sampai 11 tahun

Anak zaman sekarang sudah terbiasa dengan gadget dan terpapar informasi hingga kadar yang berlebihan. Meski sudah berusaha membatasinya, orangtua kadang masih kecolongan dan anak mendapatkan pengaruh buruk. 

Akan lebih baik untuk mengajak anak memahami kondisinya daripada menutupinya. Tanyakan pula soal pendapat dan apa saja yang sudah mereka ketahui.

Sering kali orang terdekat di sekitar juga bersikap rasial dan sulit bagi anak untuk memahaminya. Seperti paman atau nenek mereka yang memutar video rasialisme atau meme yang mengolok-olok orang lain karena perbedaannya.

Jika seperti ini, Dokter Briscoe-Smith menyarankan untuk terbuka pada anak. Sampaikan bahwa memang ada perbedaan nilai yang dianut namun tidak menghilangkan perasaan sayang terhadap orang tersebut.

Baca juga: Cara Mona Ratuliu Tanamkan Toleransi pada Anak

  • Remaja

Masa remaja jauh lebih menantang baik untuk orang tua maupun anak. Jika melihat anak menjadi pelaku kebencian maka segera hentikan hal itu dan diskusikan.

Biasanya remaja menganggap segala sesuatu remeh dan sederhana. Karena itu beritahu implikasi yang terjadi dan sikap yang sebaiknya diambil.

Ajarkan pula anak untuk berani mengambil tindakan jika melihat adanya sikap rasial atau menjadi korbannya. Keberanian ini akan membuat anak belajar bersikap tegas dan berkontribusi pada kondisi di sekitarnya.

Schonfeld mengatakan bahwa proses mendidik anak agar terbebas dari sikap rasial memang tidak mudah dan butuh proses panjang.

"Kita tidak bisa begitu saja mengajari anak-anak kita apa yang mudah — kita perlu mengajari mereka apa yang penting," ujarnya.

Baca juga: Orangtua Jangan Sering Bohong, Ini Dampak pada Anak Saat Dewasa

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.