Kompas.com - 24/03/2021, 16:53 WIB
Tunisian  Egyptian feminist writer Nawal el Saadawi speaks during a radio show hosted by France Inter and daily newspaper Le Monde 8 mars, 8 femmes (March 8, 8 women) on March 8, 2012 in Paris.  AFP PHOTO / MARINA HELLI (Photo by MARINA HELLI / AFP) AFP/MARINA HELLITunisian Egyptian feminist writer Nawal el Saadawi speaks during a radio show hosted by France Inter and daily newspaper Le Monde 8 mars, 8 femmes (March 8, 8 women) on March 8, 2012 in Paris. AFP PHOTO / MARINA HELLI (Photo by MARINA HELLI / AFP)

KOMPAS.com - Penulis Nawal El Sadaawi dikenal dunia atas perjuangannya menentang keras praktik Female Genital Mutilation (FGM). Perjuangannya didasarkan pada pengalamannya sebagai korban praktik sunat perempuan saat masih berusia 6 tahun.

Mesir, negara asal penulis dan aktivisi ini, memang dikenal sebagai salah satu wilayah yang masih kerap menerapkan sunat perempuan.

Data Unicef tahun 2016 bahkan menjadikan Mesir sebagai negara dengan angka sunat perempuan tertinggi, disusul oleh Ethiopia dan Indonesia.

Dalam bukunya yang berjudul The Hidden Face of Eve: Women in the Arab World, ia mengisahkan pengalamannya dan kakaknya disunat dengan paksa di kamar mandi rumahnya.

Ia ingat tangisan dan teriakan minta tolongnya tak digubris oleh sejumlah orang tak dikenal itu.

Lebih buruk lagi, ia menyadari jika ibunya menyaksikan proses tersebut sambil tersenyum, tanda menyetujui hal itu.

Baca juga: Sudan Tetapkan Budaya Sunat Perempuan Jadi Tindak Pidana

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kita ditakdirkan sebelumnya untuk merasakan kesengsaraan, dan bagian tubuh kita direnggut oleh tangan-tangan kejam yang dingin dan tidak berperasaan," ujarnya dikutip dari The Washinton Post pada Rabu (24/03/2021).

Ia juga berpendapat jika korban sunat perempuan ini akan merasa terhina dan dirampas haknya.

Efek psikologisnya sangat buruk sehingga dapat berdampak dalam jangka panjang. Karena itulah ia secara konsisten memperjuangkan penghapusan praktik ini hingga tutup usianya.

Pelanggaran HAM

Perjuangan Nawal El Sadaawi bukan tanpa alasan. Dunia sudah sejak lama melarang tindakan ini meski belum mampu sepenuhnya memberantasnya.

WHO mendeskripsikan FGM sebagai pengangkatan sebagian atau seluruh alat kelamin wanita bagian luar atau luka lain pada alat kelamin wanita untuk alasan non-medis.

Ada 4 jenis utama FGM yang masih kerap ditemukan, semuanya berkaitan dengan perusakan alat genital wanita termasuk klitoris dan vulva. 

Baca juga: Sering Disembunyikan, Herpes Kelamin Genital bak Fenomena Gunung Es

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X