Kompas.com - 26/03/2021, 20:51 WIB

KOMPAS.com - Seseorang dikategorikan sebagai lanjut usia (lansia) ketika sudah memasuki usia 60 tahun.

Seiring menua usia, fungsi tubuh atau fungsi organ juga akan menurun, termasuk saluran cerna.

Adapun organ pencernaan meliputi mulut, kerongkongan, lambung, usus 12 jari, usus halus dan usus besar, hingga anus.

Saluran pencernaan dikelilingi oleh organ-organ pendukung lain, seperti usus dikelilingi oleh pankreas atau kelenjar liur, hati, dan kantung empedu.

Semua organ ini bekerjasama mendukung tubuh yang disebut sistem saluran pencernaan.

Baca juga: Kurang Disadari, 7 Kebiasaan Ini Ganggu Sistem Pencernaan

Gejala

Dr dr Kuntjoro Harimurti, SpPD-KGer, MSc menyebutkan, beberapa gejala gangguan pencernaan pada lansia antara lain:

  • Penurunan kemampuan indera perasa.
  • Sering tersedak ketika menelan karena otot-otot di kerongkongan ikut melemah.
  • Jumlah kelenjar air liur berkurang. Adapun kelenjar air liur berfungsi menghasilkan air liur untuk membantu menghancurkan makanan yang masuk ke dalam mulut dan memudahkan proses menelan.
  • Pergerakan usus atau lambung melambat, sehingga proses pencernaan makanan menurun. Hal ini kerap disertai tidak nafsu makan atau kurang asupan nutrisi karena perut terasa kenyang dalam waktu yang cukup lama.

Selain karena faktor usia, ternyata gangguan pencernaan pada lansia juga bisa diakibatkan pola hidup tidak sehat saat usia muda, terutama dari makanan yang dikonsumsi.

"Tidak hanya pola hidup, konsumsi obat-obatan dari penyakit penyerta juga dapat memicu gangguan pencernaan karena efek samping dari obat tersebut, seperti mengonsumsi obat jantung atau rematik," kata Kuntjoro melalui keterangan tertulis yang diterima Kompas.com belum lama ini.

Baca juga: Penyebab Lansia Rentan Terhadap Virus Corona dan Cara Melindunginya

Jenis gangguan pencernaan pada lansia

Dokter yang berpraktik di Eka Hospital Bekasi itu membagi jenis gangguan pencernaan pada lansia berdasarkan lokasi dan penyebabnya.

Berdasarkan lokasi:

1. Gangguan mengunyah. Terjadi karena sudah banyak gigi yang tanggal atau kelenjar air liur yang sudah berkurang sehingga menyebabkan kekeringan di rongga mulut.

2. Gangguan menelan disebabkan otot-otot di sekitar mulut dan kerongkongan yang melemah seiring pertambahan usia mengakibatkan lansia mudah tersedak ketika menelan terutama saat minum atau makan makanan berkuah.

3. Gangguan di lambung atau maag dengan ciri-ciri perut perih atau sering sendawa karena asam lambung yang meningkat.

4. Gangguan di usus yang mengakibatkan diare atau sulit buang air besar (konstipasi).

Berdasarkan penyebab:

1. Infeksi bakteri, virus, atau jamur yang mengakibatkan diare.

2. Peradangan di lambung.

3. Luka di lambung yang menyebabkan pendarahan seperti buang air besar yang berdarah.

4. Konsumsi makanan yang tidak tepat sehingga tidak mampu dicerna tubuh.

5. Tumor atau kanker di saluran cerna seperti mulut, kerongkongan, usus, dan lambung.

Jika mengenali adanya gejala awal gangguan pencernaan, segeralah melakukan pemeriksaan dokter agar mendapatkan penanganan medis yang tepat.

"Misalnya, gangguan menelan, setiap makan atau minum tersedak bisa diobati dengan fisioterapi. Jika gangguan terjadi di lambung maka bisa diperiksa dengan endoskopi," ungjap Kuntjoro.

Pastikan tetap mengonsumsi makanan dengan nutrisi cukup dan seimbang, memilih makanan lunak yang mudah dicerna, serta tidak terlalu pedas dan terlalu asam.

Porsi makanan juga penting. Pastikan mengonsumsi makanan dengan jumlah yang sedikit tapi dengan frekuensi yang lebih sering.

Baca juga: 10 Gangguan Pencernaan yang Kerap Dialami Orang Indonesia

Pencegahan

Meski dapat terjadi seiring menua, namun gangguan pencernaan pada lansia dapat dicegah. Beberapa cara pencegahan tersebut di antaranya:

1. Konsumsi makanan yang bernutrisi lengkap dan seimbang, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, sayuran, dan buah-buahan.

Namun, jika ada penyakit bawaan seperti diabetes, misalnya, usahakan mengurangi konsumsi karbohidrat atau menyesuaikan agar asupan gula tidak berlebihan.

2. Berkonsultasi dengan ahli gizi untuk mengetahui berapa banyak makanan yang harus dikonsumsi, apa saja jenis makanannya, dan dibagi berapa kali dalam satu hari.

Ini bertujuan agar kebutuhan nutrisi tetap sesuai dan seimbang walaupun frekuensi makan bertambah dengan porsi yang lebih kecil.

3. Konsumsi suplemen atau vitamin diperbolehkan sebagai tambahan saja, yang utama tetap dari makanan.

Baca juga: Jaga Pola Makan, Kunci Hindari Gangguan Pencernaan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.