Kompas.com - 29/03/2021, 07:21 WIB
Ilustrasi memasak chabybuckoIlustrasi memasak

Baru dua bulan ini saya menjajal “go public” dengan mulai merambah dunia media sosial. Awalnya sekadar ‘cek ombak’ – ingin menjaring seberapa jauh literasi gizi sesungguhnya para peselancar jagad virtual.

Dalam waktu singkat unggahan saya dilalap 65% populasi berusia 25-34 tahun, 90% perempuan. Alias, para ibu muda.

Yang tadinya saya harapkan bisa menjadi ruang diskusi publik tentang kesehatan pada umumnya dan gizi masyarakat, akhirnya saya kepepet harus membahas makanan pendamping air susu ibu (MPASI).

Topik yang luar biasa seksi, karena siapa sih yang tak mau anaknya pandai, makan lahap dan otaknya cepat tanggap!

Baca juga: 3 Tips Sederhana Menanam Bumbu Dapur dalam Pot

Unggahan yang paling laris dikomen tentunya menu dan resep. Seakan-akan para ibu baru ini kehabisan napas mencari keajaiban, agar anaknya lekas gemuk dan pantang GTM – Gerakan Tutup Mulut – alias mogok makan.

Jika orang dewasa berobat karena penyakitnya dan mencari obat ajaib untuk segera sembuh, maka orangtua bayi-bayi bermasalah makan ini berburu resep, agar masa tumbuh kembang anaknya tidak terlambat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berbagai drama muncul tentunya, ketika berat badan anak tidak naik atau semua makanan yang sudah dibuat dengan setengah mati berakhir sebagai lepehan dan muntahan. Yang disalahkan makanannya.

Saya menjadi amat prihatin dengan bagaimana generasi baru ini membangun keluarga. Dikira mendapat jodoh yang tepat, foto-foto pre-wedding bak artis dan pernikahan meriah dihelat sudah membuat mereka siap jadi orangtua.

Warisan sebatas rumah dan mobil, serta perhiasan setumpuk saat seserahan. Tapi begitu anaknya lahir dan sulit menyusu, kepanikan pertama muncul. Apalagi, saat anaknya masuk usia perlu diberi makan.

Instagram adalah dunia gemerlap para pemburu isu seru. Bahkan, menjadi buku panduan virtual bagi ibu baru yang hilang akal.

Awalnya saya bingung, kenapa hidup di Indonesia MPASI diberi pernik extravirgin olive oil, unsalted butter hingga keju mini-mini menggemaskan.

Begitu pula ratusan resep membuat MPASI spesial dicetak dan dikejar para ibu yang katanya mau belajar.

Baca juga: Sampai Kapan Manusia Bertahan Makan Seadanya?

Singkat kata, bayinya mogok makan dan terancam berat badan terjun bebas. Diberondong pekerjaan rumah yang mendera, para ibu muda yang kelelahan ini pasrah saat MPASI komersial disuguhkan.

Lebih bervitamin, terukur, dan ‘dijamin’ anak suka. Jurus yang kelihatannya praktis dan sederhana, tapi nyatanya tetap membuat anak berdrama.

Waktu berjalan terus dan bayi makin kurus. Bubur sudah dibanjur segala macam minyak, beragam jenis mentega sudah dicoba. Hingga ada anak yang akhirnya perlu dipasang selang hidung-lambung, nasogastric tube.

Pekerjaan rumah kita banyak sekali. Pasangan menikah tanpa diwarisi keterampilan hidup, membuat perjalanan pernikahan mereka ambyar.

Hanya karena anak tidak mau menyusu dan makan, suami istri bisa saling menyalahkan dan keadaan makin memprihatinkan.

Semua dimulai dari pendidikan. Soal menyusui saja, manusia tidak bisa mengandalkan insting atau naluri seperti makhluk hidup lain.

Edukasi sebelum anak lahir, memahami cara menyusui yang benar – menjamin ASI ekslusif lancar bahkan tanpa terjebak rayuan penjual ‘ASI booster’ di lapak-lapak virtual, mulai dari minuman ajaib murah hingga kapsul mahal.

Begitu pula memahami bayi yang butuh stimulasi oral, mengenal berbagai tekstur dan konsistensi makanan barunya selepas ASI saja selama 6 bulan, membutuhkan kesabaran dan kecermatan.

Orangtua yang sibuk dengan dunianya, dengan alasan kerja mencari nafkah, menyisakan bayi di masa tumbuh kembangnya jauh dari kata hidup penuh berkah.

Baca juga: Waspada, Pemberian MPASI Kurang Tepat Bisa Berisiko Stunting

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.