Kompas.com - 05/04/2021, 14:52 WIB
Ilustrasi mutasi virus corona E484K. Varian ini diketahui merupakan hasil mutasi dari varian B.1.1.7. SHUTTERSTOCK/PETERSCHREIBER MEDIAIlustrasi mutasi virus corona E484K. Varian ini diketahui merupakan hasil mutasi dari varian B.1.1.7.

KOMPAS.com - Pemerintah melalui Satgas Penanganan Covid-19 beberapa hari lalu mengingatkan masyarakat untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan.

Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah penularan Covid-19 sekaligus mengantisipasi penularan mutasi E484K. Varian yang dijuluki "Eek" oleh para peneliti itu disebut lebih cepat menular.

Seperti dijabarkan dalam situs covid19.go.id, varian E484K merupakan hasil mutasi dari varian B.1.1.7.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi sebelumnya mengatakan, mutasi virus corona E484K sudah terdeteksi masuk ke Indonesia.

Adapun di Indonesia diduga sudah ada berbagai varian baru virus corona, seperti D614G, B117, dan N439K.

Terkait kemunculan varian ini, pemerintah terus meningkatkan pengawasan Whole Genome Sequencing (WGS) untuk memetakan varian Covid-19 yang masuk ke Indonesia, memperketat screening untuk warga negara asing (WNA) dan warga negara Indonesia (WNI) yang masuk ke Indonesia, hingga memastikan ketersediaan reagen demi tercapainya angka testing sesuai standar dunia.

Baca juga: Mutasi Virus Corona E484K Eek Muncul di Jepang, Lebih Berbahaya?

Menghadapi mutasi virus

Adanya mutasi virus corona mungkin membuat sebagian masyarakat khawatir. Apalagi, varian E484K yang muncul pertama kalinya di Jepang dikabarkan dapat mengurangi perlindungan vaksin.

Terkait kemunculan mutasi virus corona, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB mengatakan, pada dasarnya, masyarakat mesti waspada terutama jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah mengklasifikasikan varian tersebut sebagai prioritas.

"Kalau di-mention seperti itu (prioritas) oleh WHO ya kita harus waspada, artinya dia berpotensi menimbulkan masalah dibandingkan strain yang ada sebelumnya," kata Ari kepada Kompas.com, Senin (5/4/2021).

Baca juga: Kemenkes: Mutasi Virus Covid-19 E484K Terdeteksi di Indonesia

Hal yang terpenting, lanjut Ari, masyarakat sudah mengetahui bagaimana virus menular, yakni melalui percikan cairan (droplet) dan aerosol di udara.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X