Kompas.com - 07/04/2021, 13:07 WIB
ilustrasi pasangan Shutterstockilustrasi pasangan
  • Relasi kuasa

Tindak kekerasan yang mungkin menimpa kita bisa ditakar dari pola hubungan yang terjalin. Pasangan yang merasa tidak setara dan lebih berkuasa adalah salah satu yang harus diwaspadai.

Mereka merasa semua kata-katanya harus dituruti termasuk soal cara berpakaian, berpikir, berpendapat, dan beraktivitas sehari-hari.

Pasangan yang melarang bekerja juga bisa menjadi tanda kecenderungan KDRT dalam hal ekonomi.

Baca juga: Ketahui Tanda Pasangan Selingkuh di Media Sosial

  • Rasa cemburu yang kuat

Kecemburuan merupakan hasil dari perasaan memiliki yang terlalu kuat. Terlebih lagi jika menyalurkan cemburunya dengan hal yang ekstrem.

Hal ini kemudian bisa mengarah pada potensi kita menjadi korban kekerasan di masa depan.

Pasangan bisa beranggapan karena kita miliknya maka wajar jika diperlakukan sesuka hatinya. Nurma mengingatkan untuk memperhatikan sejak awal apakah tingkat kecemburuan pasangan masih normal atau tidak.

Terbuai Janji Manis, Mengira Bisa Berubah

Nurma menjelaskan sebenarnya tidak sulit untuk membaca tanda-tanda tersebut. Hanya saja kebanyakan orang kerap menutup mata ketika masih di fase pacaran.

"Biasanya karena masih cinta-cintanya itu mereka berharap pasangannya bisa berubah," tambahnya.

Pola pikir ini yang kemudian membuat banyak orang bersedia memberikan kesempatan untuk pasangannya. Belum lagi buaian janji manis pasangan yang membuat kita lupa sesaat pada masalah perilakunya.

Baca juga: Segera Akhiri Hubungan, Jika Pacaran Diwarnai Kekerasan Fisik

Padahal, seharusnya kita bisa bersikap tegas agar tidak menjadi korban di kemudian hari.

Bahkan jika merasa sangat rentan jadi korban KDRT, Nurma menilai tak ada salahnya memutuskan hubungan yang sedang terjalin.

Nurma menolak menganggap seseorang dengan KDRT sama sekali tidak bisa berubah. Namun, tidak ada jaminan apapun bisa diberikan untuk memastikan orang dengan KDRT bisa berubah

Hanya saja, harus dipahami bahwa sulit sekali bagi kita sebagai pasangan untuk mengubah seseorang dan membuatnya terbebas dari kecenderungan kekerasan.

Satu-satunya yang bisa membantu adalah motivasi diri orang tersebut untuk bisa berubah.

Keinginan ini juga harus dibarengi dengan upaya lebih dan intervensi dari pihak luar. Misalnya saja dengan mencari dukungan sosial, mengikuti konseling atau terapi ke psikolog.

Salah satu aspek yang membuat praktik KDRT tetap langgeng adalah tradisi sosiokultural yang menerapkan cara kekerasan pernikahan. Selain itu, masih ada stigma jika KDRT adalah urusan pribadi di dalam keluarga dan bukan tindakan kriminal.

 Baca juga: Kenali Bentuk Baru KDRT Lewat Gadget dan Media Sosial

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X