Kompas.com - 09/04/2021, 16:23 WIB

Meski banyak pro kontra bersebaran, sampai saat ini belum ada pernyataan apapun yang terlontar dari Atta merespon kehebohan ini.

Baca juga: Penting, Pria Harus Mempelajari 8 Hal Ini Sebelum Menikah

Pentingnya Kesetaraan Gender untuk Keluarga yang Harmonis

Isu kesetaraan gender dalam pernikahan sebenarnya bukan hal baru. Ada banyak pandangan soal itu khususnya bagaimana peran laki-laki kerap dibesarkan dibandingkan perempuan.

Pada masa lalu, perempuan sebagai istri kerap diistilahkan sebagai kanca wingking.

Dalam bahasa Jawa, ini diartikan sebagai teman belakang, merujuk pada posisi istri yang harus selalu ada di belakang pasangannya.

Seorang istri dianggap sebagai pelengkap suami dan tidak dipandang sebagai suatu individu terpisah dengan keunikannya sendiri.

Praktik ini dianggap sebagai ketidakadilan yang seharusnya segera dihilangkan. Pasalnya, ini erat pula kaitannya dengan relasi kuasa dalam hubungan yang bisa menjurus pada hal tidak sehat.

Pikiran lebih berkuasa, harus dituruti, merasa memiliki dan kecenderungan mengekang bisa menjadi awal dari kekerasan dalam rumah tanggah (KDRT).

Baca juga: Kenali Kecenderungan Pasangan KDRT Sejak Pacaran

Sebelumnya Nurmawati, Humas Rifka Annisa Women's Crisis Center mengatakan gejala tersebut bisa jadi awal kecenderungan melakukan kekerasan.

"Jika tidak dituruti kemudian dikhawatirkan akan melakukan tindakan kekerasan baik verbal, fisik atau bentuk lainnya," jelasnya.

Karena itu harus diupayakan untuk membangun hubungan yang setara berdasarkan kemampuan, keinginan dan pendapat kedua belah pihak. Tujuannya adalah hubungan pernikahan yang lebih harmonis dan bahagia.

Riset berjudul Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Hukum Perkawinan Islam dari IAIN Walisongo Semarang menyebutkan, dalam perspektif Islam, seorang perempuan sebagai pihak yang sederajat dengan laki-laki dapat menetapkan syarat-syarat yang diinginkan sebagaimana juga laki-laki.

Penelitian tahun 2013 ini juga merujuk pada pemikiran Qasim Amin, tokoh muslim modern Mesir yang berpendapat jika pembicaraan mengenai kasih sayang (mawaddah wa rahmah), dan hal inilah yang merupakan pokok pondasi suatu perkawinan.

Disebutkan dalam hasil riset ini, dikatakan pula hubungan antara suami dan isteri adalah hubungan horizontal bukan hubungan vertikal, sehingga tidak terdapat kondisi yang mendominasi dan didominasi.

Baca juga: 7 Cara Berkompromi demi Pernikahan yang Langgeng

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.