Kompas.com - 10/04/2021, 10:07 WIB
Ilustrasi media sosial shutterstockIlustrasi media sosial

KOMPAS.com – Ibarat dua sisi mata uang, media sosial juga memiliki efek negatif dan positif. Remaja dan orang dewasa muda mengandalkan media sosial untuk meningkatkan kesehatan mentalnya, walau media sosial juga berperan dalam buruknya kesehatan mental mereka.

Selama satu tahun terakhir remaja harus berjuang menghadapi rasa bosan dan kecemasan selama pandemi, serta tidak terpenuhinya kebutuhan mereka bersosialisasi.

Tidak bisa pergi ke sekolah, tidak ada konser, restoran tutup, dan tidak ada kegiatan jalan-jalan, semuanya berperan memperburuk kesehatan mental orang muda.

Dalam sebuah riset besar yang dilakukan oleh Common Sense Media, para peneliti mensurvei 1.500 orang berusia antara 14-22 tahun tentang kebiasaan media sosial mereka dan bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan mental mereka.

Hasilnya sangat menarik untuk melihat betapa negatifnya media sosial.  Hasil survei itu dimuat dalam laporan berjudul, Mengatasi COVID-19: Cara Kaum Muda Menggunakan Media Digital untuk Mengelola Kesehatan Mental.

Baca juga: 7 Tanda Remaja Alami Depresi, Orangtua Harus Cermat

Partisipan penelitian melaporkan bahwa mereka melihat dan terpengaruh oleh rasisme, seksisme, dan body shaming secara online. Ada retorika daring yang penuh kebencian yang bisa sangat mengganggu kaum muda.

Di lain pihak, remaja dan orang dewasa muda menggunakan media sosial untuk meningkatkan kesehatan mental mereka dengan mencari dukungan dari orang yang menghadapi masalah yang sama dengan mereka.

Tak hanya itu saja, mereka juga memanfaatkan layanan dukungan konsultasi kesehatan online untuk menjaga kesehatan mental.

Peneliti utama riset ini, Vickey Rideout berempati dengan mereka yang mengalami masa mudanya bersamaan dengan pandemi.

"Remaja dan dewasa muda sedang melalui masa dalam hidup yang sangat penting dalam perkembangannya, bahkan mereka berasa di saat-saat terbaik hidupnya. Dan itu semua benar-benar berubah karena pandemi."

Media sosial telah berkembang selama dekade terakhir dan bahkan lebih dari tahun lalu. Ini bisa sangat polarisasi dan negatif, dan juga bisa menyatukan orang. Studi tentang kebiasaan remaja dan media sosial ini menunjukkan sisi buruk dan baik kehadirannya.

Baca juga: Penting Jaga Kesehatan Mental Remaja Selama Masa Pandemi, Caranya?



Sumber Moms
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X