Desak Jokowi Setop Konsumsi dan Jual Beli Daging Anjing serta Satwa Liar

Kompas.com - 12/04/2021, 10:03 WIB
Susana di dalam pasar tradisional Tomohon, Sulawesi Utara, Minggu (29/7/2012). Pasar ini menjual berbagai jenis daging hewan untuk dijadikan santapan. Beberapa hewan yang tidak lazim dimakan seperti ular, kelelawar, tikus, hingga kera juga kerap dijual di pasar ini. KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZESSusana di dalam pasar tradisional Tomohon, Sulawesi Utara, Minggu (29/7/2012). Pasar ini menjual berbagai jenis daging hewan untuk dijadikan santapan. Beberapa hewan yang tidak lazim dimakan seperti ular, kelelawar, tikus, hingga kera juga kerap dijual di pasar ini.

PROGRAM vaksinasi massal yang saat ini sedang dilakukan pemerintah perlu diapresiasi. Di halaman media sosialnya, Presiden Joko Widodo menjelaskan, jumlah penduduk Indonesia yang telah divaksinasi mencapai 10 juta jiwa hingga 26 Maret 2021.

Vaksin Covid-19 memang tidak menjamin perlindungan penuh, tetapi mampu membentuk antibodi dan mencegah sakit menjadi parah sehingga kurva kasus positif Covid-19 dan angka kematian bisa melandai.

Vaksinasi penting, tetapi apakah itu saja cukup? Presiden Jokowi perlu ingat bahwa akar masalah pandemi Covid-19 adalah inang virus korona, yang menurut dugaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ialah satwa liar.

Baca juga: Apa Itu Penyakit Zoonosis, Penyebab Rabies sampai Covid-19?

Untuk memotong rantai zoonosis, Presiden Jokowi juga perlu segera melarang praktik konsumsi dan jual beli daging hewan non-pangan, seperti anjing, kelelawar, dan ular, dan menutup semua pasar satwa liar di Indonesia, seperti Pasar Tomohon di Sulawesi Utara.

Kebijakan tersebut tidak hanya akan mencegah munculnya varian virus baru, tetapi juga mengakhiri penderitaan hewan, mengurangi keresahan masyarakat, dan melindungi mereka dari berbagai penyakit mematikan lainnya, seperti rabies atau penyakit anjing gila.

Baca juga: 3 Faktor Pemicu Pandemi Corona dan Penyakit Zoonosis, hingga Penanganannya

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Isu global

Di Indonesia, per 26 Maret 2021, jumlah total kasus Covid-19 mencapai 1,4 juta jiwa dan 40.000 orang meninggal dunia.

Angka ini seharusnya cukup menjadi alasan bagi pemerintah untuk menutup semua pasar satwa liar dan menghukum pemotong, penjual, dan pengedar daging hewan non-pangan, seperti daging kucing dan anjing.

Daging anjing merupakan sumber utama penyakit rabies, tetapi di Indonesia, banyak anjing masih ditangkap, disiksa, dan disembelih untuk konsumsi manusia.

Di Jawa Tengah, misalnya, 25 anjing dipotong per hari di Klaten, 22 di Sragen, dan 21 Sukoharjo, menurut data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah. Praktik ilegal ini juga ditemukan di kabupaten lain, seperti Wonogiri, Blora, dan Magelang.

Daging anjing tidak hanya dijual di warung-warung makan tetapi juga didistribusikan ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Baca juga: Diduga Konsumsi Anjing yang Diadopsi, Wawan Kotet Dilaporkan ke Polisi

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.