Kompas.com - 14/04/2021, 11:00 WIB
. Shutterstock.

KOMPAS.com - Ketika ada luka di tubuh, kita memerlukan darah untuk mengeras dan menggumpal agar pendarahan berhenti. Kondisi ini dinamakan pembekuan darah.

Namun terkadang pembekuan atau gumpalan darah bisa menimbulkan masalah, apalagi jika gumpalan terbentuk di pembuluh darah dalam di dekat otot.

Hal itu dijelaskan Luis Navarro, MD, pendiri Vein Treatment Center di New York, Amerika Serikat.

Baca juga: Vaksin AstraZeneca, Benarkah Ada Risiko Pembekuan Darah?

"Ketika gumpalan darah terbentuk di dalam sistem yang lebih dalam, ini bisa menyakitkan dan sangat berbahaya," kata Navarro.

Gumpalan semacam ini disebut trombosis vena dalam, atau deep vein thrombosis (DVT).

Kondisi ini akan menghalangi laju darah, menyebabkan sirkulasi "macet" dan mencegah aliran darah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

DVT bisa berbahaya jika laju darah berubah. Hal ini akan menjadi emboli paru atau pulmonary embolism (PE), gumpalan yang mencegah paru-paru untuk mendapatkan oksigen dan darah yang dibutuhkan.

Jika demikian, paru-paru dan organ lain akan rusak dan bisa berakibat fatal.

Beberapa orang lebih rentan mengalami DVT, jadi ada baiknya kita memerhatikan faktor risiko apa pun yang dapat memicu DVT.

"Penting untuk mengenali gejala penggumpalan darah karena sering kali jarang diketahui atau terlewatkan, dan mendapatkan perawatan yang tepat adalah kuncinya," sebut Navarro.

Berikut tanda-tanda pembekuan darah yang harus diwaspadai:

Baca juga: 11 Masalah Kesehatan yang Ditandai dengan Jari/Tangan Bengkak

1. Bengkak di satu bagian

Kaki atau lengan yang bengkak adalah salah satu tanda DVT yang umum.

"Gumpalan darah dapat menghalangi aliran darah yang sehat di kaki, dan darah akan berkumpul di belakang gumpalan yang menyebabkan pembengkakan," ujar Navarro.

Pembengkakan kaki menjadi gejala DVT jika kaki selalu terlihat besar atau kaku saat berada di pesawat terbang atau selama periode tidak aktif.

Tetapi waspadalah jika anggota tubuh membengkak dengan cepat, terutama jika muncul dengan rasa nyeri.

2. Nyeri pada kaki atau lengan

Nyeri karena DVT muncul bersamaan dengan gejala lain seperti bengkak atau kemerahan.

"Sayangnya, nyeri akibat pembekuan darah dapat dengan mudah disalahartikan sebagai kram atau ketegangan otot."

"Itulah sebabnya masalah ini sering tidak terdiagnosis dan sangat berbahaya," ungkap Navarro.

Nyeri akibat pembekuan darah cenderung menyerang saat kita berjalan atau melenturkan kaki ke atas. Apabila ini terjadi, segera pergi ke dokter.

3. Kemerahan di kulit

Kita mungkin menyadari beberapa perubahan warna seperti memar karena pembekuan darah, tetapi hanya warna merah yang akan terlihat.

DVT menyebabkan kemerahan pada area tangan atau kaki yang terkena, dan membuat lengan atau kaki terasa hangat saat disentuh.

4. Nyeri dada

Rasa sakit di dada seringkali dipandang sebagai serangan jantung, tapi itu bisa menandakan emboli paru.

"Baik emboli paru maupun serangan jantung memiliki gejala yang sama," ucap Navarro.

Namun, nyeri karena emboli paru cenderung tajam dan menusuk, dan terasa lebih buruk saat kita menarik napas dalam-dalam.

Baca juga: Cara Jitu Mengenali Nyeri Dada karena Gerd

Sementara itu, nyeri karena serangan jantung sering menyebar dari area atas tubuh seperti bahu, rahang, atau leher.

Hal yang jelas membedakan keduanya, nyeri karena emboli paru akan memburuk setiap saat kita menarik napas.

5. Sesak napas

Gumpalan darah di paru-paru memperlambat aliran oksigen, dan itu bisa membuat kita merasa kehabisan napas.

"Kita sering kali tidak memiliki stamina atau napas untuk menaiki tangga," kata George P. Teitelbaum, MD, neuroradiolog intervensi.

Dia juga adalah Direktur Stroke & Aneurysm Center di Providence Saint John's Health Center di Santa Monica, California, AS.

Jika sesak napas datang tiba-tiba, jangan ditunda untuk pergi ke dokter.

6. Batuk

Apabila terjadi batuk disertai dengan sesak napas, detak jantung cepat, atau nyeri dada, itu bisa jadi adalah penanda emboli paru.

"Batuknya akan kering, tapi terkadang bisa mengeluarkan lendir atau darah," ujar Navarro.

7. Jantung berdebar kencang

Ketika kadar oksigen rendah, detak jantung meningkat untuk mengatasi kondisi tersebut.

"Perasaan berdebar-debar di dada dan gangguan saat bernapas dalam akan membuat tubuh mengirimkan sinyal bahwa kita memiliki emboli paru," kata Teitelbaum.

"Untuk gumpalan darah kecil, detak jantung meningkat sebagian karena nyeri dada, sesak napas, dan kecemasan."

Demikian dikatakan Lewis Nelson, MD, Ketua Departemen Pengobatan Darurat di Rutgers New Jersey Medical School.

Ada juga pelepasan bahan kimia dari jaringan paru-paru yang menyebabkan peningkatan detak jantung.

Jika gumpalan darah lebih besar, maka gumpalan dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah dan perubahan aliran darah yang memicu peningkatan kompensasi detak jantung.

8. Merasa lemah

"Kepala terasa ringan karena bahan kimia yang dilepaskan dari paru-paru, perubahan oksigenasi darah, dan tekanan darah serta detak jantung," ungkap Nelson.

Baca juga: Beragam Manfaat Minyak Eucalyptus, untuk Pernapasan hingga Antibakteri

Otak sensitif terhadap perubahan oksigen dan perubahan aliran darah.

Sebuah penelitian yang dimuat di dalam New England Journal of Medicine menemukan, emboli paru membuat sekitar 17 persen dirawat inap karena pingsan.

Hasil itu diambil dari 560 orang lanjut usia yang diteliti.

Langkah mengatasi pembekuan darah

Teitelbaum mengatakan, cara mengatasi pembekuan darah tergantung nyeri atau sakit yang dirasakan seseorang.

Jika kita mengalami sesak napas dan tidak bertenaga, segera dapatkan penanganan darurat.

"Kita perlu pergi ke ruang gawat darurat dan dievaluasi," kata dia.

Namun, apabila gejalanya berupa nyeri atau bengkak dan kita tidak mengetahui penyebabnya, disarankan untuk mengunjungi dokter.

Biasanya dokter akan menangani kondisi pembekuan darah dengan menggunakan obat pengencer darah.

Obat tersebut umumnya dapat dipecah menjadi antikoagulan, tablet atau suntikan.

Efeknya adalah membantu mencegah penggumpalan darah, serta terapi trombolitik, di mana pasien meminum obat untuk melarutkan gumpalan.

Dalam kasus yang lebih parah, pasien DVT bisa jadi harus dioperasi.

"Jika kita mengalami pembekuan darah, Anda mungkin perlu terus mengonsumsi anti koagulan selama beberapa bulan setelahnya," kata Teitelbaum.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.