Kompas.com - 16/04/2021, 13:49 WIB

KOMPAS.com - Tanaman porang kini sedang menjadi primadona karena laris manis diburu di pasar ekspor. Harga tanaman porang yang mencapai Rp10.000 per kilogram membuat banyak orang tergiur untuk mulai membudidayakannya.

Manfaat porang sebenarnya sangat banyak, dijadikan bahan pangan juga bahan baku industri kosmetik dan obat-obatan. Selama ini orang hanya mendapatkan hasil dari tanaman porang liar.

Padahal tanaman ekspor ini sebenarnya mudah dibudidayakan. Tanaman porang juga tidak butuh waktu lama untuk dipanen.

Pembibitan tanaman ini bisa dimulai dari potongan umbi batang, umbi yang telah memiliki titik pertumbuhan dan umbi katak.

Opsi lainnya dengan menanamnya langsung dari biji bunganya secara langsung.

Baca juga: Tergiur Harga Tinggi, 700 Petani di Semarang Beralih Tanam Porang

Dikutip dari laman Kementriaan Pertanian, tanaman yang memiliki nama latin Amorphophallus muelleri blume ini dapat tumbuh di semua jenis tanah dengan ketinggian 0 sampai 700 mdpl.

Meski perawatannya mudah namun ada sejumlah hama yang harus diwaspadai. Beberapa diantaranya ialah ulat, belalang, siput, daun terbakar matahari dan jamur pada umbinya.

Tak butuh lahan luas

Kita tidak membutuhkan lahan yang luas untuk mulai menanamnya. Asalkan ada tumbuhan penaungnya maka kita bisa segera mulai membudidayakan komoditas ekspor ini.

Ada beberapa langkah mudah menanam tanaman porang yang bisa dilakukan seperti dikutip dari akun instagram Harvest Day Farm antara lain:

Baca juga: Dapat Rp 900 Juta dari Panen Porang, Petani Ini Beli Mobil dan Tanah

  • Siapkan lahan

Kita tidak membutuhkan lahan yang luas dan bersihkan dari gulma. Untuk proses awal, kita membutuhkan sinar matahari yang cukup.

Namun, pastikan ada deretan pohon yang bisa jadi naungan untuk tanaman porang.

Tanaman yang rimbun namun tidak terlalu rapat merupakan lokasi yang ideal untuk kebutuhan cahaya matahari dan kelembaban porang.

Desa Rana Kulang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT menjadi pusat tanaman porang di NTT. Ribuan porang ditanam oleh petani, Februari 2021. KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Desa Rana Kulang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, NTT menjadi pusat tanaman porang di NTT. Ribuan porang ditanam oleh petani, Februari 2021.

Setelah itu, lakukan proses penggemburan untuk mempersiapkan lahan. Buat lubang tanam seluas 25x50 sentimeter atau 25x60 sentimeter.

Jangan lupa untuk mengisinya dengan pupuk kompos dan sekam agar pertumbuhan tanaman optimal.

  • Penanaman bibit

Penanaman sebaiknya mulai dilakukan pada awal musim hujan. Proses tanam dengan umbi bisa dilakukan langsung ke lahan yang disiapkan.

Jika kita ingin membudidayakannya dengan biji, akan lebih baik jika pembibitan dilakukan terlebih dahulu dengan polybag.

Baca juga: 7 Cara Menanam Porang dari Tanah hingga Panen agar Hasil Berkualitas

  • Pemupukan

Pemupukan pertama dilakukan pada lubang tanam yang telah disiapkan. Sedangkan pemupukan kedua bisa dilakukan ketika tanaman porang mulai tumbuh.

Gunakan pupuk organik atau pupuk kimia berjenis NPK atau TSP untuk tanaman porang. Umumnya tanaman ini tidak terlalu membutuhkan pupuk anorganik untuk berkembang secara maksimal.

Tanaman porang biasanya mulai berkembang setelah lima bulan lamanya. Setelah itu, tanaman akan mulai menguning dan mati dengan sendirinya.

Saat itu pula biasanya umbi katak yang ada di daun dan tangkainya akan berjatuhan. Umbi katak ini juga bisa dijual.

Namun banyak yang lebih memilih menggunakannya untuk ditanam kembali.

Baca juga: Awalnya Cuma Modal Cabut Bibit Porang di Hutan, Kini Raup Untung Rp 50 Juta dan Bisa ke Jepang

  • Pembersihan gulma

Porang biasanya ditanam di awal musim hujan karena sangat potensial terkena gulma. Karena itu lakukan pembersihan atau penyiangan secara rutin.

Gunakan alat bantu seperti sekop dan cangkul untuk membersihkan gulma. Timbun sisa gulma yang telah dibersihkan di dalam tanah agar bisa menjadi pupuk tanaman.

  • Penjarangan

Kita perlu melakukan penjarangan jika ada terlalu banyak batang tanaman yang tumbuh pada satu lubang. Hal ini bisa membuat umbi porang tidak berkembang dengan optimal dan ukurannya terlalu kecil.

Baca juga: 5 Fakta soal Tanaman Porang

  • Panen

Kita bisa memanen porang lebih cepat jika menanamnya langsung dari umbi yakni hanya dalam waktu tujuh bulan saja.

Sedangkan penanaman dengan bagian katak membutuhkan waktu lebih lama, berkisar 18 sampai 24 bulan sesudahnya.

Proses panen bisa dilakukan dengan menggali umbinya. Jika ingin mendapatkan untung lebih banyak, proses panen sebaiknya dilakukan di musim kemarau.

Biasanya ini adalah waktu ketika harga porang lebih mahal. Umbi ini juga bisa dijual dalam kondisi basah maupun kering.

 Baca juga: Mengenal Tanaman Porang, Si Umbi Bahan Baku Mi Shirataki

 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.