Berkeluarga Tanpa Edukasi: Mimpi Ngeri Masalah Gizi

Kompas.com - 19/04/2021, 08:05 WIB
Ilustrasi anak makan sayur SHUTTERSTOCK/McimageIlustrasi anak makan sayur

Isu stunting semakin membuat stres dan perburuan resep ‘booster ASI’ berkembang menjadi ‘booster berat badan bayi’.

Alhasil bayi menjadi target pencapaian prestasi. Sang nenek terperangah ketika ibu muda sibuk mengumpulkan salmon, berbagai mentega dan keju, serta membanjur bubur dengan minyak zaitun.

Alih-alih menambah berat badan, bayi justru teriak makin keras. Belum lagi episode sembelit dan tidak buang air berhari-hari hingga harus berlangganan obat pencahar di usia baru beberapa bulan.

Belum cukup siksaan dan deraan yang harus ditanggung, dengan pengetahuan ‘lemak tambahan membuat berat badan melonjak’, kini bermunculan bayi yang semakin kurus karena pola dan proporsi MPASI-nya mirip diet ketogenik, miskin sayur dan buah pula, karena dianggap tidak berguna dan biang keladi sembelit.

Baca juga: Dipaksa, Terpaksa, Lalu Bisa, Kemudian Biasa hingga Jadi Budaya

Semua paragraf di atas hanya kumpulan dari sekian banyak kengerian ‘cerita masa kini’, yang dialami keluarga muda dengan literasi gizi dan pola pengasuhan anak amburadul di masa bonus demografi – yang semestinya memberi Indonesia tenaga kerja usia produktif, bukan konsumtif destruktif.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Membangun keluarga baru, dikira sebagian besar orang cukup dengan meniru artis dan selebgram yang perkawinannya heboh diliput sana sini.

Mempertontonkan asesori ketimbang esensi. Seakan-akan menjadi tolok ukur perhelatan sukses itu seperti apa.

Sementara itu ada yang tidak pernah diliput, yaitu kursus calon pengantin – hal penting yang semestinya menjadi ‘kurikulum utama’ calon ayah dan ibu.

Sekolah yang tak pernah ada gedungnya, tapi semua lembaga yang mengesahkan perkawinan sudah punya garis besar edukasi yang seharusnya mendapat perhatian, bahkan pembaharuan.

Pasangan muda yang dimabuk cinta mengira menyusui anak itu otomatis, seperti gambar-gambar indah di poster.

Padahal, manusia berbeda dengan makhluk lain yang mengandalkan insting atau naluri.

Menyusui anak butuh edukasi. Bahkan ada kelas dan konselornya. Pun dot tidak bisa disamakan dengan puting ibu.

Memberi makan bayi juga butuh edukasi. Sebab bayi itu tumbuh. Sehingga, makanannya pun harus ‘tumbuh’.

Bukan menunya. Tapi teksturnya, kekentalannya, perubahannya saat bayi tumbuh gigi dan sariawan, kebutuhan bayi pegang kendali atas makanan sebagai stimulasi oromotor – hal yang terlalu penting untuk dilewatkan para calon orangtua.

Justru yang terjadi saat ini, jika bayi tidak mau makan, yang disalahkan makanannya! Alhasil ibu berburu resep, bukan konsep.

Para orangtua baru mengira 1001 resep makanan bayi bisa membuat bayinya mangap lahap. Padahal bayi tidak butuh bumbu, apalagi aneka gorengan yang diasumsikan orangtuanya ‘enak’.

Baca juga: Sampai Kapan Manusia Bertahan Makan Seadanya?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.