Berkeluarga Tanpa Edukasi: Mimpi Ngeri Masalah Gizi

Kompas.com - 19/04/2021, 08:05 WIB
Ilustrasi memasak chabybuckoIlustrasi memasak

Mewakili persepsi anak dengan cara pandang dewasa, sudah dikritisi banyak ahli gizi masyarakat dan pakar perilaku.

Salah satu publikasi Bristish Medical Journal yang ditulis oleh Russell dan kawan-kawan, membahas imbas pengalaman masa kanak-kanak dan kesehatan di masa dewasa, sehubungan dengan perilaku makan dan kesukaan.

Disebutkan asupan sayur dan buah harian sejak usia dini berkaitan dengan turunnya risiko penyakit tidak menular, sebaliknya istilah makanan ‘enak’ didapat karena pembiasaan dan pendidikan, karena mempunyai korelasi terhadap obesitas dan perilaku pola makan yang buruk.

Edukasi yang jauh dari cukup, membuat para orangtua baru terjebak dengan iklan dan iming-iming kepraktisan.

Baca juga: Bhineka Literasi Nutrisi Jadi Ancaman Integrasi

Betapa ngerinya tanah air yang kaya raya begini, lalu hasil bumi dan kekayaan lautnya hanya dikeruk industri menjadi makanan cepat saji dalam kemasan: produk ultra proses.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara rakyatnya miskin literasi, bahkan gadis sekarang kebingungan bagaimana caranya memeras kelapa menjadi santan.

Dan akhirnya, memeras santan sendiri dianggap konyol, karena sudah ada yang instan di rak mini market, anti basi anti repot.

Negara maju semestinya maju di semua bidang. Termasuk nalar yang mumpuni untuk memelihara kehidupan dan kelanggengan keturunan.

Menjadi suatu kekonyolan tragis, jika orang di luar sana mampu membuat makanan tradisional kita dengan ahli dari bahan asli yang sehat, sementara rakyat kita lebih memilih kepraktisan produk kemasan dan menganggap mencampur produk di dapur sebagai memasak.

Kekuatan pentahelix yang digadang-gadang pemerintah sebagai pemutus lingkaran setan stunting, seharusnya saling terhubung dengan pengaruh dan kolaborasi yang sama kuat antara media, akademisi/profesi, masyarakat, pelaku usaha dan pemerintah itu sendiri.

Jika ada salah satu dari kelima kekuatan itu mendapat perlakuan ‘khusus’ dan kebebasan tanpa kendali bahkan ekspansi kepentingan, maka masyarakat akan menjadi korban.

Akibatnya bukan sekarang, tapi nanti sekian puluh tahun kemudian, dimana kita berada pada titik yang tak kenal kata berbalik.

Baca juga: Ketika Bukan Orang Kesehatan Bicara soal Kesehatan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.