Belajar dari Jessica Jane, Ini 7 Langkah Bersihkan Jejak Digital di Medsos

Kompas.com - 21/04/2021, 17:10 WIB
YouTuber Jessica Jane. Instagram/Jessica JaneYouTuber Jessica Jane.

KOMPAS.com - Nama Jessica Jane, YouTuber sekaligus adik dari YouTuber ternama, Jess No Limit, selum lama ini ramai dibincangkan.

Nama Jessica menjadi topik terpopuler (trending topic) setelah unggahan-unggahan lamanya di Facebook beredar di Twitter.

Unggahan lama tersebut memperlihatkan kata-kata kasar dirinya ketika masih kecil.

Atas hal tersebut Jessica sudah meminta maaf. Dirinya juga mengaku kaget mengapa saat kecil bisa berbicara seperti itu.

Belajar dari kasus Jessica, mungkin masih banyak orang yang tak menyadari betapa jejak digital (digital footprint) adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan.

Jejak digital adalah jejak data yang dibuat ketika kita menggunakan internet. 

Ini bisa berupa email yang kita kirim dan data lainnya yang kita kirimkan ke layanan online.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jejak digital pasif adalah jejak yang ditinggalkan secara online tanpa sengaja. Misalnya, alamat IP yang tercatat oleh penyedia layanan internet, lokasi, hingga riwayat penelusuran.

Sementara jejak digital aktif adalah yang sengaja kita kirimkan secara online.

Lalu, bagaimana dengan jejak digital di media sosial?

Perusahaan manajemen reputasi online, ReputationDefender menjelaskan, kita justru paling banyak meninggalkan jejak digital di media sosial.

Sekalipun aktivitas online kita hanya sebatas berkirim meme lucu dan foto keluarga, atau konten-konten tidak berbahaya lainnya, citra online kita masih bisa terbentuk, misalnya dari laman atau konten yang kita beri tanda "like" atau akun-akun terbengkalai yang tak pernah lagi kita akses.

Jejak digital di media sosial juga mungkin saja mengungkapkan argumen-argumen yang pernah kita ungkapkan atau unggahan lama yang kita harap tak pernah kita ungkapkan, seperti yang terjadi pada Jessica Jane.

Baca juga: Masa Lalu Terbongkar Lewat Facebook, Jessica Jane Minta Maaf

Pentingnya jejak digital masih belum banyak disadari. Padahal, citra jejak digital kita bisa berdampak pada diri kita di masa depan.
FREEPIK/RAWPIXEL.COM Pentingnya jejak digital masih belum banyak disadari. Padahal, citra jejak digital kita bisa berdampak pada diri kita di masa depan.

Semua yang kita lakukan di media sosial bisa saja dilihat oleh orang lain di masa depan dan dampaknya mungkin melebihi apa yang kita duga.

Jadi, meluangkan watu untuk "membersihkan" jejak digital adalah hal yang perlu, bahkan kalau perlu meminta maaf kepada orang-orang yang terdampak.

Hal ini mungkin memang ribet dan melelahkan, tapi kita mungkin memerlukannya untuk mengurangi dampak negatif di masa depan.

Berikut langkah menghapus jejak digital yang bisa kita terapkan:

1. Audit platform media sosial

Menurut SocialMediaToday, penting untuk melakukan audit terhadap semua media sosial yang pernah kita ikuti.

Facebook, misalnya, memungkinkan penggunanya untuk emngunduh seluruh riwayat aktivitas yang kemudian bisa kita telusuri satu-satu.

Jika menemukan unggahan yang rasanya sudah tidak layak, pertimbangkan untuk menghapusnya.

Namun, jika itu adalah unggahan yang menandai (tag) akun kita dan diunggah oleh orang lain, cobalah sebisa mungkin berbicara dengan orang tersebut dan secara sopan meminta untuk menghapusnya atau tidak menandai diri kita.

Baca juga: Tips Menghindari Kecanduan Media Sosial, Going Offline Dulu, Yuk!

2. Hapus akun tidak aktif

Banyak dari kita yang mungkin membuat banyak akun di berbagai platform media sosial.

Penting untuk menelusurinya kembali dan menghapus akun-akun yang sudah tidak aktif.

Langkah ini memang tidak mudah, tetapi bisa kita lakukan secara perlahan.

3. Ganti nama

Melalui internet, sangat mudah untuk menelusuri jejak digital kita, termasuk di media sosial.

Jika 10 tahun lalu kita menggunakan nama pengguna (username) tertentu dan tidak menggantinya, maka akan sangat mudah menelusuri apa saja yang pernah kita unggah dalam jangka waktu tersebut.

Oleh karena itu, jika ingin menghapus jejak digital, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengganti nama tersebut dengan nama baru.

4. Matikan fitur "tagging"

Mengontrol apa yang kita unggah cenderung lebih mudah daripada mengontrol apa yang orang lain unggah dan "menyeret" diri kita melalui fitur tagging.

Misalnya, teman kita bisa saja mengunggah foto diri kita ketika sedang mabuk saat menghadiri pesta ulang tahunnya.

Foto tersebut berisiko menyebar sebelum kita mungkin menyadarinya.

Beberapa platform media sosial menyediakan fitur untuk mematikan tagging untuk menghindari potensi unggahan negatif di masa depan.

Untuk unggahan masa lalu, kita juga bisa meminta pengunggahnya untuk menghapus tag terhadap akun kita.

Meskipun, hal ini mungkin sedikit rumit jika berkaitan dengan kasus seperti mantan kekasih, perundungan, bahkan peretas.

Baca juga: 5 Dampak Negatif Media Sosial terhadap Remaja, Orangtua Perlu Tahu

5. Buat menjadi akun privat

Beberapa aplikasi akan secara otomatis memberikan informasi tentang kita, termasuk kontak, file yang tersimpan di perangkat kita, hingga data lokasi.

Oleh karena itu, penting untuk meninjau satu-persatu pengaturan privasi yang digunakan di setiap aplikasi dan media sosial untuk menghindari terlalu banyak informasi pribadi yang tersebar.

Penting pula untuk menjadikan akun media sosial kita menjadi akun privat untuk membatasi orang-orang yang mampu melihat unggahan kita.

Sebab secara umum, semakin sedikit orang yang melihat unggahan kita, akan semakin sedikit pula jejak digital kita.

6. Pikir dua kali sebelum menunggah

Tak hanya menghapus jejak digital yang menjadi penting, tetapi juga menjaga jejak digital kita agar tetap "bersih".

Pastikan berpikir dua kali sebelum mengunggah sesuatu. Mulai dari argumen, foto, video, dan lainnya.

Sebelum mengunggah komentar, misalnya, coba tanyakan pada diri sendiri apakah diri kita keberatan jika suatu saat unggahan tersebut dikaitkan dengan diri kita.

Menjaga kebersihan jejak digital lebih mudah dibandingkan menghapusnya. Jadi, lebih baik mulai sekarang kita lebih peduli akan hal itu.

Baca juga: Mudahnya Mengakali Batasan Umur di Media Sosial

7. Bentuk citra positif di dunia maya

Jika sudah meenghapus konten-konten masa lalu yang dirasa tidak layak, langkah berikutnya adalah membangun citra diri yang positif di dunia maya.

Bagaimana menentukannya? Cukup pikirkan saja kira-kira seperti apa diri kita ingin dipandang oleh orang lain berdasarkan konten yang kita unggah.

Buatlah konten positif sebanyak-banyaknya, sehingga kelak ketika orang lain mencari nama kita di internet, konten-konten positif inilah yang akan mendominasi dan menghapus jejak digital negatif kita, jika masih ada.

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membentuk citra positif seperti aktif di media sosial dan mengunggah argumen atau konten bermanfaat, menulis blog, hingga terlibat dalam diskusi forum online.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.