Kompas.com - 30/04/2021, 12:13 WIB
Sejumlah pelajar melakukan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Balai Warga RT 05/RW 02 Kelurahan Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2020). JAK Wifi adalah program internet gratis dari Pemprov DKI Jakarta yang ditujukan untuk pelajar di permukiman padat penduduk yang kesulitan mengakses internet. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSejumlah pelajar melakukan kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Balai Warga RT 05/RW 02 Kelurahan Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2020). JAK Wifi adalah program internet gratis dari Pemprov DKI Jakarta yang ditujukan untuk pelajar di permukiman padat penduduk yang kesulitan mengakses internet.

KOMPAS.com - Metode pembelajaran jarak jauh yang diterapkan selama pandemi ternyata memberikan dampak buruk bagi anak.

Hal itu terungkap dari survei terbaru yang dilakukan oleh Children's Hospital of Chicago terhadap lebih dari 32.000 pengasuh anak di Chicago Public Schools.

Dari keterangan para partisipan, hampir seperempat anak digambarkan merasa stres, cemas, marah, atau gelisah ketika pandemi mengubah metode pembelajaran tatap muka menjadi sekolah online.

Survei tersebut melibatkan hampir 50.000 anak di berbagai tingkat pendidikan mulai dari pertengahan Juni hingga 15 Juli 2020, dan dimuat ke dalam jurnal JAMA Network Open.

Baca juga: Nadiem Beberkan Dampak Satu Tahun Pembelajaran Jarak Jauh: Anak Putus Sekolah hingga Kesenjangan

Juga, survei menemukan bahwa sekitar sepertiga remaja digambarkan oleh pengasuh mereka merasa kesepian, dan hanya sepertiga remaja yang digambarkan memiliki hubungan sosial dan teman sebaya yang positif selama pembelajaran jarak jauh.

"Secara keseluruhan, orangtua atau pengasuh melaporkan secara signifikan kesejahteraan psikologis yang lebih buruk setelah sekolah tatap muka ditutup," demikian temuan para peneliti.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pengasuh melaporkan pandemi dan penutupan sekolah menimbulkan dampak emosional yang substansial pada anak dan remaja," kata penulis utama studi Tali Raviv, PhD, psikolog klinis.

Ia juga Associate Professor of Psychiatry and Behavioral Sciences di Northwestern University Feinberg School of Medicine.

"Perhatian publik yang lebih besar terhadap masalah kesehatan mental remaja bisa membantu mengalokasikan sumber daya secara tepat dan mengumumkan kebijakan untuk mendukung kesejahteraan siswa saat sekolah dibuka kembali," tambah dia.

Baca juga: Uji Coba Sekolah Tatap Muka Berakhir Jumat Besok, Wagub DKI: Belum Ada Laporan Negatif

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.