Kompas.com - 30/04/2021, 18:34 WIB
Ilustrasi anak dengan Covid-19 di masa pandemi virus corona ShutterstockIlustrasi anak dengan Covid-19 di masa pandemi virus corona

Mulai dari kemiskinan, bahaya, dan keterputusan sosial. Namun faktor-faktor tersebut tidak mengubah hubungan antara polusi udara dengan kesehatan mental.

Brittany LeMonda, seorang ahli neuropsikologi senior di Lenox Hill Hospital di New York City, mengkaji temuan tersebut.

"Penelitian ini penting karena dapat membantu mengidentifikasi mereka yang berisiko mengalami penyakit kejiwaan di lingkungan tertentu yang polusi udaranya tinggi," katanya.

Reuben mengatakan, peneliti sudah mengetahui bila polusi udara mengandung campuran kompleks zat beracun yang dapat merusak otak.

Sebelum melakukan penelitian, sudah ada penelitian terdahulu yang serupa terhadap hewan dan studi otopsi pada manusia.

Reuben mengatakan, mekanisme pastinya masih belum jelas. Tetapi muncul dugaan adanya peradangan sistemik akibat polusi.

Polutan udara dapat menembus jaringan paru-paru paling dalam dan beredar di aliran darah. Hal ini memicu respons imun yang dapat membahayakan kesehatan otak.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dalam beberapa kasus diyakini polutan udara dapat mencapai otak secara langsung melalui hidung. Polutan udara dapat merusak respons kekebalan jaringan otak," kata Reuben.

Baca juga: 6 Tips Cegah Efek Buruk Polusi Udara pada Anak

Dia menambahkan, beberapa anak muda mungkin berisiko lebih besar terhadap gangguan mental. Sebab paparan terhadap polutan udara lebih tinggi.

"Keluarga yang tinggal di pinggir jalan juga cenderung memiliki eksposur tertinggi terhadap polutan udara," kata Reuben.

Kai Chen, asisten profesor epidemiologi di Yale School of Public Health di New Haven, Conn., turut meninjau temuan ini.

Menurutnya, perlu pemahaman lebih lanjut terkait sifat campuran dari polusi udara, termasuk gas, polutan seperti NOx, dan partikel seperti PM2.5.

"Kedua polutan berbagi sumber yang sama seperti emisi lalu lintas. Adanya kebijakan yang menargetkan sumber pembakaran dapat mengurangi berbagai polutan udara," kata Chen.

Temuan ini telah dipublikasikan secara online 28 April di JAMA Network Open.

Baca juga: Tak Cuma Gangguan Paru, Ini Efek Polusi Udara Bagi Tubuh

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X