Kompas.com - 04/05/2021, 18:18 WIB
Ilustrasi perceraian di usia lanjut shutterstockIlustrasi perceraian di usia lanjut

KOMPAS.com - Kabar perceraian Bill Gates dan Melinda cukup mengejutkan banyak orang. Bagaimana tidak, pasangan ini selalu terlihat harmonis dan menjadi panutan.

Terlebih Bill Gates dan Melinda sudah cukup lama menikah yakni 27 tahun. Namun mereka bukanlah satu-satunya pasangan yang bercerai walau sudah menikah puluhan tahun.

Di Amerika Serikat, penelitian menunjukkan tingkat perceraian telah menurun selama 20 tahun terakhir. Tapi tingkat perceraian di atas usia 50 tahun terus meningkat.

Fenomena ini dikenal dengan istilah grey divorce yang mengacu pada warna rambut yang sering dimiliki orangtua.

Tak jarang orang mempertanyakan alasan pasangan yang sudah menikah berpuluh-puluh tahun memutuskan bercerai.

Baca juga: Usia Pernikahan Bukan Jaminan Aman dari Perceraian, Ini Alasannya

Melansir Forbes, ada beberapa alasan yang bisa mendasari hal ini. Berikut ulasannya :

1. Manajemen keuangan

Keuangan adalah masalah utama yang menyebabkan grey divorce karena biasanya sulit ditangani. Terutama jika salah satu pasangan memiliki tantangan untuk mengelolanya.

Pasangan yang bergumul dengan hutang atau terus-menerus bertengkar tentang keuangan seringkali berakhir dengan perceraian.

Masalah lainnya bisa timbul apabila salah satu pihak memiliki uang berlebih dan kerap mengambil keputusan yang melibatkan uang.

Perceraian juga bisa disebabkan oleh kebiasaan belanja yang berlebihan atau salah mengurus dana.

Penelitian menunjukkan, pernikahan menjadi lebih kuat bila suami menambah penghasilannya. Sebaliknya, peluang pernikahan gagal akan semakin besar jika penghasilan istri bertambah.

Baca juga: Biar Tak Canggung, Begini Cara Membahas Penghasilan dengan Pasangan

2. Tinggal terpisah dengan anak

Banyak pasangan suami istri yang bercerai karena kehilangan percikan dalam rumah tangganya. Terutama saat anak-anaknya pergi dari rumah dan tinggal terpisah.

Tak dapat dipungkiri, terkadang anak menjadi alasan pasangan suami istri bertahan dalam rumah tangga karena ingin membesarkan anak bersama.

Tapi ketika anak pergi, bisa jadi salah satu atau kedua pihak merasa tidak lagi 'mengenali' pasangan yang dinikahinya dulu.

Imbasnya, pasangan memutuskan untuk tidak lagi mempertahankan rumah tangga karena merasa ada yang berbeda.

3. Ketidaksetiaan

Perselingkuhan adalah alasan utama lainnya yang menyebabkan grey divorce. Terlebih adanya situs kencan membuat perselingkuhan rentan terjadi.

Tak jarang pria mulai menganggap wanita muda lebih menarik dibanding istrinya. Hal yang sama juga bisa terjadi pada wanita yang mungkin tertarik dengan pria muda.

Baca juga: Ada 4 Macam Tipe Perselingkuhan, Mana yang Paling Sering Terjadi?

4. Tingkat kesehatan dan harapan hidup

Harapan hidup saat ini jauh lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Rentang hidup telah meningkat secara drastis, dan bahkan pada usia 50 tahun ke atas orang mengira mereka punya waktu untuk menemukan apa yang membuat mereka bahagia dalam pernikahan.

Orang tua tidak lagi menghindari gagasan perceraian karena mereka masih percaya dapat menemukan kebahagiaan di usia separuh baya.

Akses ke perawatan kesehatan yang baik membuat individu tetap aktif secara mental, fisik, dan psikologis.

Hal ini mendorong orang untuk terus mencari pasangan yang sesuai dengan minat dan sikap mereka ketika pasangan mereka yang sekarang gagal untuk tetap sehat, bugar, dan aktif.

5. Kecanduan

Selain perselingkuhan, kecanduan juga bisa menjadi penyebab perceraian. Kecanduan terhadap obat-obatan, alkohol, perjudian, atau pornografi, dapat menghancurkan pernikahan.

Banyak pernikahan berantakan ketika seseorang menempatkan kebiasaannya di atas kebutuhan keluarga.

Kecanduan seperti perjudian dan narkoba dapat menyebabkan tekanan finansial pada pernikahan yang berakhir dengan perceraian.

Implikasi

Dampak dari grey divorce tetap bisa terasa pada anak-anak. Meskipun anak tersebut telah beranjak dewasa dan lebih memahami yang terjadi pada orangtuanya.

Proses adaptasi dengan perubahan dinamika keluarga bisa terasa sangat sulit. Terlebih anak-anak sudah terbiasa dengan satu keluarga.

Lalu tiba-tiba anak harus berurusan dengan keluarga yang terpisah. Belum lagi jika masing-masing orangtuanya memiliki pasangan hidup baru.

Anak-anak mungkin terjebak di antara perselisihan orangtua dan dipaksa untuk memihak. Ini tentu rasanya sangat tidak menyenangkan.

Grey divorce juga berdampak signifikan terhadap keuangan keluarga. Pembagian harta dan aset yang dimiliki bisa semakin rumit.

Baca juga: Usia, Pekerjaan, dan Pendidikan Berpengaruh pada Perceraian, Mengapa?



Sumber Forbes
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X