Kompas.com - 12/05/2021, 16:43 WIB
Ilustrasi ketupat dan opor ayam, hidangan khas Lebaran di Indonesia. SHUTTERSTOCK/ODUA IMAGESIlustrasi ketupat dan opor ayam, hidangan khas Lebaran di Indonesia.

KOMPAS.com - Ketika momen Hari Raya Idul Fitri tiba, kita begitu bersemangat memasak berbagai menu masakan khas lebaran. Membuat makanan yang tersaji di atas meja makan pun berlimpah.

Sayangnya, kebiasaan ini tak dibarengi dengan kepedulian yang cukup tentang cara menyimpan makanan yang tepat.

Pada akhirnya, sering sekali makanan lebaran yang disimpan malah basi atau terlalu sering dihangatkan karena kerap bersisa.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan Nutrisi pada Kelainan Metabolisme Gizi dari RS Pondok Indah - Puri Indah, dr Ida Gunawan, MS, SpGK (K) memberikan semumlah tips menyimpan masakan lebaran yang tepat agar makanan kita tak mudah rusak.

Pertama, ketika makanan sudah selesai dimasak dan akan disimpan di kulkas, pastikan kita menyimpannya di tempat yang tepat dan dalam kondisi yang tertutup rapat.

Pahami betul tempat penyimpanan yang tepat untuk setiap jenis makanan.

Daging-dagingan, misalnya, sebaiknya disimpan di freezer. Sementara sayur dan buah pada umumnya memiliki ruang khusus sendiri di kulkas.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jangan tercampur-campur dan harus tahu tempat penyimpanannya, apakah di freezer atau kulkas biasa," ujarnya melalui pesan suara kepada Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: Kiat Menyiasati agar Kolesterol Tak Naik Saat Lebaran

Memanaskan dengan tepat

Ketika hendak menyajikan makanan, pastikan kita mengambil dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan.

Jika mengambil porsi yang terlalu banyak, makanan kemungkinan akan bersisa dan dimasukkan kembali ke kulkas lalu dikeluarkan kembali saat akan dikonsumsi di waktu berikutnya.

"Itu akan mengurangi nilai gizi karena proses pemanasan berulang," kata Ida.

Selain nilai gizi yang berkurang, proses pemanasan berulang juga dapat menambah kandungan lemak trans pada makanan yang tidak baik bagi kesehatan.

Konsumsi makanan tinggi lemak trans dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah dan meningkatkan risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung dan stroke.

"Jadi dipanaskan sesuai kebutuhan, secukupnya. Baru ditambah lagi jika jumlahnya tidak mencukupi," ucap Ida.

Baca juga: 5 Pola Makan untuk Mencegah Bobot Naik Usai Lebaran



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X