Kompas.com - 20/05/2021, 05:58 WIB
Ilustrasi keguguran. SHUTTERSTOCK/H_KOIlustrasi keguguran.

KOMPAS.com - Aurel Hermansyah mengalami keguguran. Belajar dari kondisi tersebut, penting untuk mengetahui lebih lanjut tentang kemungkinan penyebab keguguran di awal kehamilan.

Keguguran pada umumnya terjadi sebelum usia kehamilan 20 minggu.

Jika kehamilan berakhir dengan kematian janin setelah usia kehamilan 20 minggu, kondisi tersebut dikategorikan sebagai bayi lahir mati (stillbirth).

Meskipun banyak orang tidak membicarakan tentang keguguran yang dialaminya, kondisi ini sebetulnya sangat umum terjadi.

Menurut Verywell Health, ada 10-15 persen kehamilan di mana sang ibu tahu bahwa dia kehamilannya akan berakhir dengan keguguran.

Menurut American Pregnancy Association (APA), penyebab umum keguguran adalah kelainan genetik pada embrio. Namun penyebab keguguran juga bisa dikarenakan faktor lain, seperti gangguan tiroid, diabetes, gangguan imunologi, penyalahgunaan obat, dan lainnya.

Berikut kemungkinan penyebab keguguran di awal kehamilan yang perlu diketahui:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Kelainan kromosom

Risiko keguguran karena kelainan kromosom bisa mencapai 70 persen pada trimester pertama dan 20 persen ada trimester kedua.

Melansir Parents, ini terjadi karena adanya kesalahan pada gen janin.

Selama pembuahan, sperma dan sel telur masing-masing menyatukan 23 kromosom untuk menciptakan pasangan yang sangat serasi. Ini adalah proses yang kompleks dan kesalahan kecil saja bisa menyebabkan kelainan genetik atau kromosom.

Keguguran yang disebabkan oleh kelainan kromosom lebih sering terjadi pada wanita hamil dengan usia lebih dari 35 tahun.

Menurut dokter kebidanan dan ginekologi dari Rumah Sakit Winnie Palmer, Orlando, Florida, AS, Stephanie Zobel, MD, hal itu dapat terjadi karena semua sel telur yang dimiliki seorang wanita ada sejak dirinya lahir dan ikut menua bersama wanita tersebut.

Usia ayah juga memainkan peran yang sama.

Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah keguguran karena kelainan kromosom dan begitu keguguran mulai terjadi, tidak ada yang bisa dilakukan untuk menghentikannya.

Baca juga: Jangan Katakan 10 Hal Ini kepada Seseorang yang Alami Keguguran

2. Penyakit tiroid

Baik hipotiroidisme (terlalu rendah) atau hipertiroidisme (terlalu tinggi), gangguan tiroid dapat menyebabkan masalah infertilitas atau menyebabkan keguguran berulang.

Situs Malpani Infertility Clinic menjelaskan, dalam kasus di mana fungsi tiroid wanita rendah, tubuh akan mencoba mengimbanginya dengan memproduksi hormon yang dapat menekan ovulasi.

Sebaliknya, jika tiroid memproduksi terlalu banyak hormon dapat mengganggu kemampuan estrogen untuk melakukan tugasnya dan membuat rahim tidak nyaman untuk implantasi atau menyebabkan perdarahan uterus yang tidak normal.

3. Diabetes

Penderita diabetes dengan ketergantungan insulin yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peningkatan risiko keguguran dan risiko cacat lahir ketika penderita sedang berada pada kehamilan trimester pertama.

Jadi, wanita dengan diabetes perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mengoptimalkan kontrol gulanya.

4. Serviks lemah

Serviks adalah leher rahim. Menurut Medical News Today, jika otot-otot serviks lemah, otot-otot tersebut bisa terbuka terlalu dini selama kehamilan, sehingga menyebabkan keguguran.

Baca juga: Perjalanan Kehamilan Aurel, Sempat Punya Kista hingga Alami Keguguran

5. Infeksi

Terkadang, infeksi dapat menyebabkan keguguran. Infeksi yng dimaksud dapat mencakup:

  • Infeksi menular seksual (IMS): IMS seperti gonore dapat meningkatkan risiko keguguran dan komplikasi kehamilan lainnya.
  • Infeksi lain: Infeksi rutin seperti keracunan makanan yang disebabkan listeriosis juga dapat meningkatkan risiko keguguran.

6. Ketidakseimbangan hormon

Terkadang tubuh wanita tidak menghasilkan cukup hormon progesteron, yang diperlukan untuk membantu lapisan rahim menopang janin dan membantu plasenta menahan janin.

Penyebab ini sebetulnya tak terlalu umum. Oleh karena itu, asisten profesor kebidanan dan ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Ohio, Jonathan Schaffir, MD mengatakan pihaknya biasanya tak akan melakukan pengujian kecuali seorang wanita sudah mengalami beberapa kali keguguran.

Pemberian obat dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan di kehamilan berikutnya.

7. Penggunaan obat-obatan, alkohol dan merokok

Beberapa gaya hidup tidak sehat, seperti penyalahgunaan obat-obatan, konsumsi alkohol selama kehamilan, dan merokok dapat menyebabkan keguguran dini dan keguguran pada trimester berikutnya.

Mengoptimalkan kesehatan Anda menjelang kehamilan dapat membantu mengurangi risiko keguguran.

Baca juga: Perhatikan 9 Hal Ini Sebelum Merencanakan Kehamilan

8. Gangguan Imunologis dan Penyakit Kronis

American College of Obstetricians and Gynecologists berpendapat bahwa gangguan autoimun tertentu juga dapat menyebabkan keguguran, terutama pada kasus keguguran berulang.

Meskipun keterkaitannya cenderung rumit, namun pemahaman paling sederhananya adalah tubuh tidak menerima kehamilan.

Beberapa penelitian telah menemukan bahwa antibodi tertentu bisa menjadi salah satu penyebab paling umum dari keguguran berulang, misalnya lupus.

Penyakit kronis lain yang mungkin meningkatkan risiko keguguran berulang termasuk penyakit jantung, penyakit ginjal, dan penyakit hati.

9. Obesitas atau berat badan kurang

Obesitas dapat meningkatkan risiko keguguran pertama dan selanjutnya.

Wanita dengan indeks massa tubuh (BMI) rendah sebelum hamil juga berisiko tinggi mengalami keguguran.

Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Obstetrics and Gynecology melaporkan, wanita dengan berat badan kurang memiliki risiko mengalami keguguran 72 persen lebih mungkin selama 3 bulan pertama kehamilan, dibandingkan wanita dengan berat badan sehat.

Beberapa faktor risiko lain yang dapat menyebabkan keguguran seperti:

  • Usia

Risiko keguguran naik drastis ketika seorang wanita menginjak usia 35 tahun. Di antara usia 35-40 tahun, risiko keguguran meningkat dua kali lipat dari 20 persen menjadi 40 persen.

  • Pernah keguguran sebelumnya

Seseorang yang pernah mengalami keguguran sebelumnya, terutama jika sudah dua kali atau lebih, maka akan lebih berisiko mengalami keguguran di masa depan.

  • Terpapar substansi berbahaya

Terpapar substansi berbahaya juga dapat meningkatkan risiko keguguran. Substansi yang dimaksud termasuk rokok dan alkohol, obat-obatan ilegal, hingga racun lingkungan.

Baca juga: Salah Pakai Kondom Bisa Sebabkan Kehamilan, Ini 5 Tandanya

Berkonsultasi dengan dokter

Rasa sakit fisik akibat keguguran hanyalah satu sisi.

Menerima kejadian keguguran adalah tahap lainnya yang mesti dilalui, termasuk menerima bahwa impian untuk memiliki buah hati harus tertunda. Kondisi ini bisa menimbulkan trauma.

Jika mengalami komplikasi keguguran, baik fisik maupun emosional, segera hubungi dokter.

Para dokter mungkin dapat membantu memberikan dukungan serta solusi yang tepat untuk melalui masa berat tersebut.

Dukungan dari orang-orang terdekat juga sangat penting. Ingatlah bahwa kebanyakan orang yang mengalami keguguran masih punya kesempatan untuk mendapatkan kehamilan yang sehat dan cukup bulan di waktu berikutnya.

Baca juga: Aurel Hermansyah Keguguran, Atta Halilintar Ingatkan agar Tetap Happy

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.