Kompas.com - 20/05/2021, 15:02 WIB
Ilustrasi anak belajar daring, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19. SHUTTERSTOCK/TRAVELPIXSIlustrasi anak belajar daring, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19.

KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo kerap menyebutkan literasi digital adalah kunci untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Kita dianjurkan untuk belajar lebih jauh cara menggunakan teknologi agar lebih bermanfaat dan berguna.

Sekarang mungkin kita sudah terbiasa menggunakan teknologi di kehidupan sehari-hari namun penguasannya masih terbatas. Namun literasi digital adalah kemampuan yang lebih dalam daripada itu.

Kita dianjurkan untuk tidak hanya menjadi pengguna namun juga sebagai operator.

Baca juga: Jokowi: Pembangunan Literasi Digital Kerja Besar, Pemerintah Tak Bisa Sendiri

Bukan hanya mampu mengirim surel atau menggunakan media sosial, literasi digital berarti memiliki keterampilan perangkat lunak praktis seperti membuat blog, membuat kode situs web, atau aplikasi.

Selain itu, ada beberapa tema yang amat penting dipahami ketika kita berusaha melek dengan dunia digital. Misalnya saja perundungan siber, internet safety, digital foot prints, etika menggunakan sumber daya online dan plagiarisme.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

10 Fakta Penting Soal Literasi Digital Berdasarkan UNICEF

Para orangtua diharapkan dapat mengajari anaknya soal literasi digital secara menyeluruh. Bukan hanya mengaplikasikannya, namun juga memahami bahaya serta tindakan pencegahan yang dibutuhkan oleh penggunaan teknologi.

Baca juga: Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Jangan Abaikan Akselerasi Literasi

Sayangnya para orangtua sendiri banyak yang belum melek literasi digital. Berbeda dengan anak yang terlahir sebagai digital native, kebanyakan dari kita lahir di era ketika penggunaan komputer dan internet masih sangat minim.

Untuk memastikan anak mendapatkan kemampuan yang dibutuhkan di masa depan, kita sebagai orangtua perlu belajar lebih banyak soal pentingnya melek digital.

Bukan hanya sebagai pengguna akhir media sosial namun juga memahami cara kerjanya, siapa yang dapat melihatnya, dan jejak digital yang ditinggalkan.

Baca juga: Ayo Orangtua, Ajak Anak Manfaatkan Teknologi Digital dengan Benar

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Untuk memudahkan kita memahaminya, UNICEF telah menyusun 10 hal soal literasi digital bagi anak-anak.

Berikut adalah faktanya:

  • Lebih dari sekadar pengetahuan teknis

Literasi digital termasuk pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang membuat anak aman dan berdaya di dunia maya. Kemampuan ini mencakup permainan, partisipasi, sosialisasi, pencarian dan pembelajaran melalui teknologi.

Bentuknya bisa bervariasi pada setiap anak, khususnya dipengaruhi oleh usia, budaya dan konteks lokal.

Baca juga: Jangan Asal Labeli Anak dengan Kata Nakal, Bisa Jadi Pengaruh Buruk

  • Anak perlu melek digital meskipun tidak selalu dalam keadaan daring

Dunia digital akan memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak di masa depan termasuk pula pendidikan, kesejahteraan sosial dan peluang kerjanya.

Karena itu, anak perlu diajari berbagai hal tersebut termasuk soal pemindaian wajah dan pembuatan profis berbasis kecerdasan buatan.

  • Literasi digital adalah bagian yang berkembang dari pendekatan apa pun untuk pengembangan keterampilan.

UNICEF berusaha meningkatkan literasi digital pada anak dan remaja untuk kebutuhan sekolah, pekerjaan dan kehidupan. Kemampuan ini diprediksi akan menjadi dasar dan dibutuhkan dalam berbagai sektor.

Baca juga: Literasi Digital, Ini Cara Lindungi Data Diri agar Tak Disalahgunakan

Ketrampilan lain yang dianggap berkaitan oleh UNICEF antara lain  keterampilan dasar (literasi dan berhitung); keterampilan yang dapat dipindahtangankan (juga dikenal sebagai keterampilan hidup, keterampilan abad ke-21 atau keterampilan lunak); dan keterampilan khusus pekerjaan (keterampilan teknis dan kejuruan).

  • Alat untuk mengembangkan dan menilai literasi digital sedang dikembangkan

Literasi digital merupakan hal yang baru bagi semua orang. Karena itu saat ini sedang dikembangkan tools berdasarkan kerangka kompetensi oleh lembaga dan perusahaan internasional.

Idenya adalah seperangkat kompetensi yang mencakup keterampilan teknis dan yang dapat dialihkan, seperti komunikasi dan pemecahan masalah.

Baca juga: Ketrampilan Hidup yang Paling Sulit Diajarkan pada Anak

  • Sudah ada beberapa program literasi digital yang beroperasi dalam skala besar dan telah dievaluasi dampaknya

Program literasi digital sudah mulai masih dilakukan. Hanya saja aplikasinya masih kurang merata salah satunya disebabkan kurangnya konsensus dan standar global.

Hal ini kemudian menyulitkan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk merancang dan melaksanakan inisiatif komparatif dan hemat biaya, terutama di negara berkembang.

Baca juga: Jokowi Ingin Internet Diisi Konten Mendidik dan Menyejukkan

  • Program UNICEF masih membutuhkan koordinasi banyak pihak

UNICEF menjadi salah satu pihak yang telah menyelenggarakan berbagai program literasi digital di seluruh dunia. Sayangnya, belum ada kerjasama menyeluruh antara berbagai negara tersebut.

Hasil  survei terhadap 40 inisiatif yang dilakukan oleh 37 Kantor Negara menunjukkan bahwa mereka tidak terkoordinasi dengan baik satu sama lain. Selain itu, pengetahuan tidak dihasilkan atau dibagikan secara sistematis tentang kemanjuran dan dampak.

Baca juga: Anak Muda Lebih Tertarik Berjualan Online

  • Penerapan literasi digital tidak mudah

Aplikasi literasi digital masih memiliki banyak tantangan termasuk kurangnya kapasitas guru dan pelatih, kurangnya infrastruktur teknologi, konektivitas internet rendah (terutama untuk daerah terpencil), dan kurangnya pemahaman dari pembuat keputusan.

Karena alasan ini, dibutuhkan dukungan pengembangan kebijakan, kerangka kerja literasi digital, pedoman kurikulum dan perangkat praktis, seperti manual serta perangkat pelatihan.

Baca juga: Konten Viral Tenaga Kesehatan dan Kode Etik di Media Sosial

  • Tersedia beberapa program yang sesuai dengan arahan UNICEF

Program yang dimaksud antara lain DigComp framework dari Komisi Eropa dan Digital Kids Asia-Pacific oleh Kantor Regional Asia dan Pasifik UNESCO di Bangkok. Berbagai program tersebut dianggap dapat meningkatkan kemampuan dengan berfokus pada anak-anak.

  • Program literasi digital harus sesuai konteks

Istilah literasi digital hanya akan menjadi ide semu jika tidak disesuaikan dengan konteks yang ada. Karena itu, pelaksanaannya membutuhkan pelaksanaan tinjauan diagnostik awal dari konteks lokal, mengembangkan pedoman operasionalisasi dan melakukan penilaian dampak.

Baca juga: 7 Alasan Orangtua Harus Dorong Anaknya Rajin Tulis Tangan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.