Kompas.com - 23/05/2021, 12:14 WIB

Beberapa penderita self harm menganggap pertanyaan dari orang lain sebagai hal yang melegakan. Hal ini bisa jadi awal pertolongan yang sebenarnya mereka butuhkan.

  • “Saya melihat bahwa kamu sangat kesakitan. Apakah kamu ingin memberi tahu saya apa yang sedang terjadi? "

Kalimat ini memberikan validasi akan perasaan sakit yang dirasakan tanpa merujuk langsung pada perilaku tak sehatnya. Pancing mereka untuk bicara lebih jauh soal penderitaan yang dialami.

Dengarkan kisahnya sampai selesai tanpa dipotong. Ingatlah untuk tidak langsung menawarkan bantuan atau menghubungkannya dengan pengalaman pribadi.

  • "Apa yang membuatmu menyakiti diri sendiri?"

Pertanyaan ini bisa dilontarkan jika teman menunjukkan sikap terbuka untuk berbagai soal gangguannya ini. Fokuskan pertanyaan pada pemicu emosional, bukan perilaku atau efek yang dirasakan.

Tujuan kita memahami penyebabnya, bukan menilai perilakunya. Setelah itu, kulik lebih jauh soal kondisi yang dialaminya melalui pertanyaan yang relevan.

Metode ini memberikan kesempatan untuk membicarakan proses dengan cara yang mungkin belum pernah dilakukan sebelumnya.

  • "Saya akan melakukan apapun yang saya bisa tapi tidak bisa melakukannya sendiri. Bisakah kami memberimu dukungan?"

Kecenderungan menyakiti diri sendiri adalah perilaku yang sulit dipahami dan kompleks. Karena itu, tujuan kita adalah mengajak teman tersebut mendatangi ahlinya guna mendapatkan pertolongan.

Jika saran ini bakal menyinggung perasaannya, coba ceritakan soal kenalan yang pernah mengalaminya dan sembuh dengan bantuan psikiater.

Saat ini ada banyak konsultasi kesehatan mental tahap awal yang bisa dilakukan secara daring. Sarankan pada teman untuk melakukannya jika mereka ragu atau malu datang langsung ke klinik kesehatan mental.

  • “Tidak apa-apa jika tidak ingin membicarakannya sekarang. Saya di sini kapan pun. "

Jika teman belum siap membuka diri dan bercerita, hormati sikapnya. Tekankan kepadanya, kita siap mendengarkan curhatannya dan memberikan bantuan kapan saja.

Coba lagi untuk menanyakannya beberapa waktu mendatang. Jika sikapnya tak berubah, jangan putus asa untuk membantu.

Hal ini mungkin membuat frustasi dan menjengkelkan namun jangan memaksanya untuk bersikap terbuka. Berikan mereka waktu dan kesempatan untuk belajar percaya.

Kadangkala, perhatian seperti ini sangat dibutuhkan seseorang dan dapat membantunya menyembuhkan gangguan ini.

Baca juga: Senang Menyakiti Diri Sendiri, Gangguan Jiwakah?

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber self.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.