Kompas.com - 28/05/2021, 18:54 WIB

KOMPAS.com – Kualitas udara tempat kita tinggal juga berpengaruh pada kesehatan. Menghirup udara yang segar dan bersih adalah dambaan kita semua.

Sejak kasus Covid-19 pertama kali dikonfirmasi di Indonesia tahun lalu, pemerintah mendesak masyarakat untuk melakukan aktivitas di dalam rumah dan tidak pergi ke luar rumah jika tidak mendesak.??Karena itu kualitas udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan.

Sirkulasi udara yang buruk bisa membuat virus Covid-19 mudah berlipat ganda dan menyebar.

Walau tidak bisa dilihat kasat mata, tetapi udara di sekitar kita dipenuhi oleh partikel mikroskopik, termasuk debu, nitrogen dioksida, karbon monoksida, kelembabab, ozone, hingga virus.

Baca juga: 10 Hal yang Dibutuhkan untuk Meningkatkan Kualitas Udara Rumah

Alat pengukur kualitas udara di ruangan dari Aria.Dok Aria Alat pengukur kualitas udara di ruangan dari Aria.
Kualitas udara yang buruk bukan hanya menyebabkan alergi, tetapi juga sakit kepala, tidur terganggu, hingga penularan virus.

Meningkatkan kualitas udara di rumah bisa sesederhana dan secepat mungkin, salah satunya dengan membuka jendela untuk pertukaran udara.

Namun, hal tersebut tidak selalu praktis karena tergantung pada cuaca, kelembapan, polusi, tingkat serbuk sari, dan faktor lokal lain di luar.

Meletakkan alat penjernih udara (air purifier) yang mampu menyaring udara juga bisa dilakukan. Pilih alat yang berkualitas dan ganti filternya secara berkala.

Baca juga: Emisi Karbon Dunia Turun Banyak karena Covid-19, Kualitas Udara Membaik?

Pengukur kualitas udara

Untuk memantau indeks kualitas udara di ruangan, saat ini kita bisa menggunakan gadget khusus. Salah satunya yang dikembangkan oleh Aria, perusahaan rintisan yang berfokus pada kualitas udara.

Co-Founder dan CEO Aria, Nathan Roestandy mengatakan, alat pemantau kualitas udara dalam ruangan ini juga bisa mengidentifikasi apakah kondisi dalam ruangan kita meningkatkan kelangsungan hidup dan penyebaran virus.

“Keadaan kualitas udara dalam ruangan berpengaruh kepada resiko penularan virus,” katanya.

Nathan mengungkapkan bahwa suhu udara yang dingin juga mampu memperpanjang kelangsungan hidup virus dan kelembaban yang terlalu kering bisa membuat droplet menjadi lebih ringan dan mengapung di udara lebih lama.

Baca juga: Aplikasi Nafas Ukur Kualitas Udara Jabodetabek Real-Time

Menurutnya dengan menggunakan Airtest udara mampu dinetralisir di kondisi yang baik untuk tubuh manusia.

“Dengan inovasi Aria AirTest ini, masyarakat yang memiliki perangkat bisa secara real-time memantau kondisi suhu udara, kelembaban dan PM2.5 (particulate matter) mereka,” katanya.

Nathan melanjutkan, device ini terintegrasi dengan aplikasi Nafas, sehingga semua data langsung kelihatan dan dapat rekomendasi untuk memperbaiki kondisi udara sewaktu tidak optimal.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.