Kompas.com - 09/06/2021, 10:02 WIB
Ilustrasi anak tantrum. SHUTTERSTOCK/DOUBLE_HIlustrasi anak tantrum.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah dengan melatih anak meregulasi emosinya. beberapa langkah untuk membantu anak memiliki mengelola emosi, antara lain:

  • Mengajari untuk mengenali emosi atau perasaan diri (name the feeling).
  • Mengajari untuk mengenali emosi atau perasaan orang lain.
  • Hadir dan mendengarkan perasaan anak.
  • Menanggapi dengan tepat apa yang menjadi kebutuhan anak.
  • Tidak bereaksi negatif saat anak rewel atau marah.
  • Menjadi contoh atau role model.
  • Senang bermain dengan anak dan tertarik dengan aktivitas anak.
  • Mengajarkan teknik-teknik relaksasi (emotional toolbox).

Tanda perkembangan emosi anak bermasalah

Lalu, apa tanda yang bisa kita lihat bahwa perkembangan emosi anak tidak sesuai tahapan usianya?

Anggia mengatakan, orangtua dapat memerhatikan anak untuk mengetahui sehat atau tidaknya emosi sosial anaknya.

Berikut lima tanda perkembangan emosi anak sudah baik, yaitu:

  • Anak mampu membangun hubungan dengan orang-orang di lingkungannya sesuai dengan tahapan usianya.
  • Anak tertarik menemukan hal baru dan mempelajarinya sesuai dengan tahapan usianya.
  • Anak mampu berkonsentrasi sesuai perkembangan usianya.
  • Emosi anak tidak mudah lepas kontrol alias tantrum berulang kali.
  • Anak mampu mengatur emosi dirinya sendiri ketika menghadapi tantangan (sesuai perkembangan usia).

Baca juga: 5 Cara agar Tenang dan Terkendali Saat Anak Tantrum

Terkadang, anak dapat mengalami emosi negatif yang dapat berkembang menjadi ledakan emosi (outbursts).

Sebenarnya hal ini dianggap wajar. Namun, ledakan emosi pada anak harus diwaspadai jika:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

  • Ledakan emosi masih terjadi pada tahapan usia perkembangan di mana seharusnya itu sudah tidak terjadi, yaitu di atas usia 7-8 tahun.
  • Ledakan emosi anak membahayakan dirinya atau orang lain.
  • Ledakan emosi menimbulkan masalah serius di sekolah juga perlu diwaspadai.
  • Perilaku memengaruhi kemampuan anak bersosialisasi dengan teman-temannya sehingga mereka “dikucilkan”.
  • Perilaku tantrum anak membuat mereka distress atau kesulitan dalam keseharian keluarga.
  • Saat anak merasa tidak mampu mengendalikan emosi marahnya dan merasa dirinya “buruk”.

Menurut Anggia, kepercayaan terhadap orangtua dan model figur yang mereka amati dalam keluarga berperan dalam membentuk kepercayaan dirinya serta membantu mereka meregulasi emosi.

Anak yang merasa memiliki kepercayaan terhadap model figurnya juga cenderung lebih mandiri dan berani mengambil risiko.

"Apabila si kecil memiliki karakter ini, maka diharapkan anak dapat berperilaku tepat dalam lingkungan sosialnya dan terhindar dari masalah penyesuaian diri dalam hidupnya," kata dia.

Baca juga: Mengenali Masalah Emosi Anak di Masa Pandemi, dan Cara Mengatasinya

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X