Kompas.com - 10/06/2021, 10:32 WIB
Menerima kelemahan diri bisa membuat kita lebih bahagia dan menjadi pribadi yang lebih baik. PEXELS/ARTEM BELIAIKINMenerima kelemahan diri bisa membuat kita lebih bahagia dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Editor Wisnubrata

Beberapa gejala dini yang umum didapati niat bunuh diri adalah rasa sedih yang begitu dalam, kacau pikiran (galau), resah, mudah marah, suka melukai diri sendiri, tidak mau bergaul.

M Zaid Wahyudi dalam tulisannya di Kompas, Oktober 2020, memberitakan hasil swaperiksa Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) yang meneliti 5.661 orang dari 31 provinsi di Indonesia pada Oktober 2020. Hasilnya, 68 persen responden mengalami masalah psikologis.

Dari jumlah itu 67,4 persen terkena gangguan kecemasan; 67,3 persen mengalami depresi; dan 74,2 persen terkena trauma psikologis. Secara umum yang mengalami gangguan psikologis ini usianya kurang dari 30 tahun.

Melalui swaperiksa ini pula terungkap 48 persen responden ingin melukai diri; 68 persen berpikir bunuh diri; 5 persen mencoba bunuh diri.

Baca juga: Krisis Pandemi Covid-19, Kelompok Usia Muda Pun Ingin Bunuh Diri

Penanaman nilai

Masalah kesehatan mental dan ketahanan mental harus disikapi dengan serius. Kesehatan mental berkaitan dengan kondisi pikiran, perasaan, dan emosi dengan timbulnya rasa senang, tenteram, bahagia, dan dapat bergaul dengan baik dengan orang lain.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sedangkan ketahanan mental adalah kondisi psikologis seseorang yang dapat mengembangkan kemampuan dalam situasi apa pun ketika menghadapi ancaman dari luar termasuk dari diri sendiri.

Orang-orang yang mengambil jalan pintas bunuh diri, disinyalir ketahanan mentalnya rapuh. Tidak kuat menahan tekanan sehingga ingin melupakannya dengan cara bunuh diri.

Oleh karena itu, ketahanan mental harus dipupuk sejak dini, sejak anak masih kecil. Tepatnya sejak awal harus ditanamkan dalam keluarga dan sekolah. Ini sebagai bekal anak dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan.

Tugas orangtua terhadap anak selain melindungi, merawat, membimbing, memberi kasih sayang, perhatian, penanaman nilai-nilai religius, juga yang sangat penting adalah membangkitkan optimisme yang tinggi pada anak dan membangun mental “tahan banting”.

Di dalamnya ditanamkan sikap jangan mudah putus asa kalau menghadapi masalah, jangan gampang kecewa kalau tidak kesampaian, berpikir positif sekaligus hindari pikiran negatif.

Selain itu jangan khawatir berlebihan apalagi ekspektasi yang keliru akan memperparah masalah yang dihadapi, bersikap sabar dalam sesuatu, selalu bersyukur kepada Tuhan dalam segala hal. Dan tak kalah penting, sayangilah diri sendiri! 

Baca juga: 10 Manfaat Meditasi untuk Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.