Kompas.com - 11/06/2021, 07:56 WIB
Tim Gold Digger yang membuat prototipe aplikasi Agrow untuk memprediksi harga hasil pertanian. Dok SIFTim Gold Digger yang membuat prototipe aplikasi Agrow untuk memprediksi harga hasil pertanian.

Rumus perhitungan jejak karbon tersebut, lanjutnya, dibuat berdasarkan perhitungan material produk, jarak dari penjual ke konsumen, hingga kuantitas barang.

“Nantinya akan dimasukkan juga perhitungan wrapping atau kemasan barangnya,” ujarnya.

Baca juga: Hari Bumi: Ketahui 10 Dampak Perubahan Iklim di Indonesia

Sementara itu, James Chandra dari Gold Digger menceritakan ide pembuatan Agrow berasal dari keprihatinan ia dan teman-temannya pada fluktuasi harga hasil pertanian di Indonesia.

“Dengan harga yang berfluktuasi, terkadang hasil panen tidak bisa terjual karena harga terlalu rendah atau harga pangan sangat mahal dan tidak terbeli konsumen. Saat harga terlalu rendah hasil panen sering terbuang dan menghasilkan sampah makanan. Ini masalah prevalen dan tentu berkontribusi pada perubahan iklim,” kata James dalam kesempatan yang sama.

Gold Digger yang beranggotakan James, Nathaniel Jason, Yudha Perdana, dan Muhammad Dzaki Razaan Faza ini, lalu menciptakan aplikasi seluler yang bisa memprediksi permintaan dan harga tanaman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Berkat Petani Milenial, Ekspor Hasil Pertanian Jateng Capai Rp 2,51 Triliun

“Aplikasi ini untuk memprediksi bahan pangan apa yang perlu ditanam supaya petani cepat dapat untung, termasuk menjaga keseimbangan suppy dan demand di pasar Indonesia,” papar Yudha.

Walau begitu, menurutnya Agrow masih dalam tahap pengembangan dan penyempurnaan sehingga dapat dipakai secara luas.

“Pengembangan Artificial Inteligence untuk aplikasi ini belum selesai, kami masih terus melakukan riset, menambah variable dan mencoba pengaruhnya pada prediksinya,” kata Nathaniel.

Baca juga: Ciptakan Baterai Organik dari Alga Merah, Mahasiswa ITB Juara Kompetisi Asia-Pasifik

Mentoring

Menjadi peserta Climate Hack 2021 dirasakan para peserta sangat bermanfaat. Di ajang ini mereka dapat mempelajari keterampilan digital, seperti pemikiran desain, UX / UI dan coding, bertukar pikiran, dan mengembangkan solusi untuk meningkatkan ketahanan iklim.

Diskusi panel tentang tantangan iklim saat ini dan potensi teknologi dipisahkan menjadi serangkaian workshop peningkatan kapasitas interaktif – yang disebut Skills Lab – dipimpin oleh sukarelawan Singapura dan internasional dari sektor digital.

“Climate Hack 2021 sangat menarik karena kami bisa mendengar saran-saran dari mentor dan juga mengetahui ide-ide peserta dari negara lain dalam mencari solusi perubahan iklim di negaranya,” kata Muhammad Dzaki.

Baca juga: Anak Muda Lebih Tertarik Berjualan Online

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X