Kompas.com - 11/06/2021, 15:39 WIB
Ilustrasi PIXABAYIlustrasi

KOMPAS.com - Pemboikotan pada karya seseorang yang terbukti menjadi pelaku pelecehan seksual memang bisa menjadi dukungan moral yang berarti bagi korbannya.

Gerakan penolakan tersebut memang langkah yang kerap diambil ketika pelaku memiliki sejumlah karya yang berpengaruh. Misalnya saja Harvey Weinstein, R Kelly, dan Kevin Spacey yang kondang dengan produksinya di bidang musik dan perfilman.

Sayangnya, pemboikotan ini seringkali tidak memberikan efek yang subtansial khususnya dalam jangka panjang.

“Untuk memastikan dengan pasti bahwa kita tidak menonton karya yang dibuat oleh seseorang yang menyalahgunakan kekuasaannya, kita mungkin harus berhenti menonton hampir semuanya,” kata Sheila Winborne, profesor filsafat dari Northeastern University, Massachutes.

Baca juga: Boikot Karya Pelaku Pelecehan Seksual, Apakah Bermanfaat?

Akademisi yang mengajar kursus interdisipliner dalam agama, filsafat, dan film ini menilai tindakan boikot adalah hukuman sosial yang diniatkan baik. Namun tidak bisa mengubah permasalahan yang sudah menjadi sistematik ini.

Ia menilai tindakan boikot tidak serta merta menyelesaikan akar masalah kekerasan seksual yang masih terjadi. Akan lebih baik, kita membiasakan diri untuk bersikap kritis terhadap konten-konten yang dinikmati baik itu buku, podcast, film, atau karya lainnya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tujuannya untuk menyaring pesan tersirat dalam karya tersebut dan meluruskan pemahaman yang salah.

"Apa yang mungkin membantu, bagaimanapun, adalah pendidikan yang lebih baik tentang pesan halus, sering tidak disadari yang disajikan dalam film dan lembaga budaya lainnya," katanya.

Baca juga: 5 Film yang Hadirkan Potret Memilukan dari Tragedi Pelecehan Seksual

Maksudnya, kita harus sadar soal pesan yang sedang dikampanyekan lewat karya tersebut dan memperhatikan pesan mana yang paling banyak dikomunikasikan.

“Seringkali, saya akan bertanya kepada siswa saya apa yang telah mereka pelajari tentang gender melalui film Disney, dari Disney hingga film horor dan yang lainnya, pesan sering disematkan yang memperkuat stereotip budaya.” tambahnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X