Kompas.com - 23/06/2021, 10:21 WIB
Warga melintas di depan mural berisi ajakan melawan corona di Jalan Pahlawan Komarudin RW 03, Cakung Barat, Jakarta Timur, Sabtu (17/10/20). Visual karya Komunitas Bale Buku tersebut mengusung tema Sosialisasi Protokol Kesehatan 3 Msebagai imbauan kepada masyarakat pentingnya protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan untuk mencegah penyebaran penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Suwandy/hp. ANTARA FOTO/SuwandyWarga melintas di depan mural berisi ajakan melawan corona di Jalan Pahlawan Komarudin RW 03, Cakung Barat, Jakarta Timur, Sabtu (17/10/20). Visual karya Komunitas Bale Buku tersebut mengusung tema Sosialisasi Protokol Kesehatan 3 Msebagai imbauan kepada masyarakat pentingnya protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan untuk mencegah penyebaran penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Suwandy/hp.

KOMPAS.com -Tudingan herd stupidity muncul karena perilaku masyarakat yang abai pada protokol kesehatan dan kebijakan yang tidak konsisten dengan penanggulangan pandemi.

Sosiolog Daisy Indira Yasmine mengatakan, istilah herd stupidity sebenarnya adalah ungkapan kritik terhadap perilaku kita menghadapi Covid-19. Bukan hanya kepada masyarakat saja namun seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan pandemi ini.

"Artinya kebodohan bersama-sama karena yang harusnya kita tuju adalah herd immunity," terangnya kepada Kompas.com pada Selasa (22/06/2021).

Awalnya, herd immunity atau imunitas komunal sempat menjadi harapan untuk menangkal penyebaran virus. Imunitas itu tercipta karena masyarakat sudah resisten pada Virus Corona salah satunya karena program vaksinasi yang sudah berjalan.

Baca juga: Herd Stupidity, Bukan Sekadar Masalah Kebodohan Komunal

Nyatanya, imunitas itu belum juga tercipta meski pandemi sudah berjalan lebih dari satu tahun. Bahkan jumlah kasus Covid-19 belakangan terus melonjak yang diikuti dengan berbagai masalah lainnya.

Banyak masyarakat kesulitan mendapatkan fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan yang layak. Tenaga kesehatan juga belum kelelahan menghadapi pasien yang datang silih berganti.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Daisy menilai, Indonesia sekarang ini memang sedang menghadapi masalah penanganan Covid-19 yang belum konsisten antar komponen.

Beberapa diantaranya regulasi pemerintah pusat maupun daerah yang berubah-ubah, praktik pemerintah dengan warga dan pelaku usaha, penjagaan border dengan negara luar dan perbatasan internal Indonesia.

"Intinya kita ini tidak tegas, belum kompak dan belum terbangun solidaritas sosial dalam menghadapai Covid-19," jelasnya.

Baca juga: Jokowi Harap Herd Immunity Segera Terbentuk, Epidemiolog: Kita Masih Sangat Jauh

Ia menambahkan, penyebaran virus Corona bukanlah masalah pribadi melainkan problema keluarga, kelompok, dan mayoritas.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.