Kompas.com - 24/06/2021, 08:08 WIB
Seorang pengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi COVID-19 di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (29/4/2021). Mural yang dibuat oleh warga setempat itu untuk memberikan dukungan atas perjuangan tim medis yang selama ini berada di garis terdepan dalam penanganan COVID-19 khususnya di Pontianak. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/wsj. ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANGSeorang pengendara motor melintas di depan mural tentang pandemi COVID-19 di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (29/4/2021). Mural yang dibuat oleh warga setempat itu untuk memberikan dukungan atas perjuangan tim medis yang selama ini berada di garis terdepan dalam penanganan COVID-19 khususnya di Pontianak. ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/wsj.

Ia menambahkan, sejumlah penelitian telah membuktikan, orang yang mudah percaya dengan konspirasi termasuk soal Covid-19, biasanya tidak percaya kepada pemerintah yang sedang berjalan.

"Hasil studi membuktikan, biasanya mereka yang tidak percaya, kecenderungan lebih suka konspirasi itu, tidak percaya pemerintah, posisinya oposisi," terangnya kepada Kompas pada Rabu (23/06/2021).

Baca juga: Setahun Pandemi Covid-19, Ini 6 Teori Konspirasi Menyesatkan di Dunia

Mengapa Manusia Mudah Tergoda pada Konspirasi?

Isu miring soal Covid-19 maupun berbagai teori konspirasi lainnya sebenarnya bukan hal baru di masyarakat. Ada banyak hoaks lainnya yang sampai saat ini masih sangat diyakini orang banyak termasuk soal bumi datar.

Pakar jebolan Universitas Indonesia ini menjelaskan kerentanan manusia pada konspirasi adalah bentuk nyata kemampuan kita sebagai cognitive measure.

"Pada dasarnya manusia bukan pengolah informasi yang baik," jelasnya.

Manusia mengolah informasi dengan berbagai keterbatasan, tidak seperti mesin yang lebih objektif dengan berbagai data yang ada.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sifat alami manusia membuat kita rentan terhadap bias yang dipengaruhi pula oleh banyak hal. Ia menambahkan, faktor yang paling berdampak ialah selera, pengetahuan dan kesukaan pada sesuatu hal, termasuk pemerintah.

Pada orang yang sejak awal memiliki rasa tidak suka akut pada pemerintah, Dicky menjelaskan, dijadikan momen untuk mencari pembenaran.

Baca juga: Sempat Tolak Vaksin Covid-19, Pria Amerika Ini Butuh Cangkok Paru

"Karena tidak percaya pada pemerintah maka mereka mencari pembenaran lain untuk perilaku mereka," tandasnya.

Meski demikian, ia menilai situasi herd stupidity saat ini tidak serta merta terjadi karena ketidakpercayaan masyarakat pada Covid-19.

Menurutnya, ada banyak hal yang berkontribusi pada kondisi kebodohan komunal ini. Utamanya adalah faktor bosan akan pandemi, kebingungan masyarakat dan inkonsistensi kebijakan pemerintah.

Kombinasi ini membuat masyarakat bersikap nekat dan abai pada protokol kesehatan sehingga melakukan mobilitas yang berdampak pada lonjakan kasus di berbagai daerah.

Baca juga: Waspadai Kelelahan Digital Selama Pandemi

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.