Kompas.com - 25/06/2021, 18:48 WIB

KOMPAS.com - Virus corona B.1.617.2 atau varian delta yang pertama kali ditemukan di India telah mendominasi pemberitaan setelah menyebar ke seluruh dunia, dan memicu lonjakan ekstrem kasus Covid-19.

Tidak hanya sampai di situ, varian ini juga bermutasi dengan memunculkan varian baru bernama "delta plus" yang mulai mengkhawatirkan para ahli kesehatan dunia.

Baca juga: Apa Itu Varian Delta Plus dan Bedanya dengan Varian Lain?

Bahkan, Public Health England (PHE) Inggris mencatat, berdasarkan pemindaian rutin kasus Covid-19 di negara tersebut, ditemukan beberapa kasus yang berasal dari mutasi K417N atau varian delta plus.

Sementara itu, pada 16 Juni, kasus varian delta plus juga telah diidentifikasi muncul di beberapa negara.

Negara-negara tersebut antara lain, Amerika Serikat, Kanada, India, Jepang, Nepal, Polandia, Portugal, Rusia, Swiss, dan Turki.

Mengenal varian delta plus

Sejak kemunculannya di Wuhan, China, pada akhir tahun 2019, virus corona telah bermutasi berulang kali, dan beberapa varian mengubah transmisibilitas, profil risiko, serta gejala virus.

Baca juga: Para Ahli Sebut Terlalu Dini Simpulkan Risiko Varian Delta Plus

Ada pun beberapa dari varian yang sekarang kita kenal yakni varian alfa, delta, dan delta plus.

Pada Rabu (23/6/2021), Kementerian Kesehatan India menemukan sekitar 40 kasus varian delta plus dengan mutasi K417N.

Pihak kementerian tersebut juga menginformasikan, varian delta plus memiliki karakteristik yang mengkhawatirkan.

Karakteristik tersebut antara lain, peningkatan penularan, pengikatan yang lebih kuat ke reseptor sel paru-paru, dan potensi pengurangan respons antibodi monoklonal.

Namun, seorang dokter yang adalah ahli epidemiologi dan vaksin di New Delhi, Chandrakant Lahariya, mengatakan, orang tidak perlu panik, dan hanya harus tetap waspada terhadap perkembangan varian baru ini.

Baca juga: Varian Delta Lebih Menular dan Berbahaya dari Virus Corona Dominan

"Secara epidemiologis, saya tidak mempunyai alasan untuk percaya bahwa delta plus mengubah situasi saat ini dengan cara mempercepat atau memicu gelombang ketiga," kata dia kepada CNBC.

"Jika melihat bukti yang tersedia saat ini, delta plus tidak jauh berbeda dari varian delta. Ini adalah varian delta yang sama dengan satu mutasi tambahan," sambung dia.

Menurut Chandrakant, satu-satunya perbedaan klinis adalah varian elta plus memiliki beberapa resistensi terapi kombinasi antibodi monoklonal.

Dan, itu bukan perbedaan besar karena terapi tersebut juga sedang diselidiki lebih lanjut, dan hanya sedikit yang memenuhi syarat untuk perawatan ini.

Baca juga: Varian Delta Dominasi 90 Persen Kasus Baru Covid-19 di Uni Eropa

Apa pun varian virusnya, Chandrakant mengingatkan agar masyarakat tetap mengikuti protokol kesehatan dan mendapatkan vaksin Covid-19 sesegera mungkin.

Analisis dari PHE yang dirilis pekan lalu menunjukkan, dua dosis vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech atau Oxford-AstraZeneca sangat efektif mengurangi risiko rawat inap dari varian delta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.