Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Membentuk Resiliensi untuk Mengurangi Kecemasan

Kompas.com - 29/06/2021, 08:42 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Resiliensi yang dimiliki individu dapat mempengaruhi keberhasilannya dalam beradaptasi pada situasi yang penuh tekanan dengan berbagai risiko dan tantangannya serta membantu individu dalam memecahkan masalah dan mencegah kerentanan pada faktor-faktor yang sama pada masa yang akan datang (Sales & Perez, 2005).

Baca juga: Menjadi Pribadi yang Resilien di Tengah Pandemik Covid-19

Menurut Bronfenbenner (dalam Duncan et al., 2005) keluarga sebagai mikrosistem, sebagai lingkungan yang utama dalam perkembangan individu memiliki kontribusi yang besar terhadap pencapaian resiliensi.

Individu yang resilien dikelompokkan ke dalam tujuh ciri, antara lain insight, independence, creativity, humor, initiative, relationships, dan values orientation.

Beberapa penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan resiliensi dan kecemasan menunjukkan hasil bahwa resiliensi secara signifikan berkontribusi dalam menurunkan tingkat kecemasan (Hjemdal et al., 2011; Vick, Sharpley & Peters, 2010; Panchal, Mukherjee & Kumar, 2016).

Baca juga: 5 Cara Meredakan Stres Saat Menghadapi Masalah Berat

Untuk membentuk resiliensi, Anda dapat melakukan hal-hal seperti di bawah ini.

1. Belajar dari kesalahan dan kegagalan. Setiap kesalahan sebenarnya memiliki kekuatan untuk mengajari kita sesuatu yang penting, jadi yang perlu kita ingat adalah carilah pelajaran dalam setiap situasi yang kita hadapi, termasuk dari kesalahan maupun kegagalan.

Sering kali, masalah yang terjadi memungkinkan kita untuk mengevaluasi kembali kehidupan kita dan membuat perubahan positif dalam hidup kita.

2. Mencari tujuan hidup. Ketika seseorang menghadapi masalah atau berada di titik terendah hidupnya, mencoba mencari tujuan hidup dan mencoba mencari hal apa yang bisa dilakukan untuk membuat hidup lebih bermakna sangatlah penting. Mengapa? Karena hal ini dapat mencegah seseorang dari perasaan tak berdaya, tak berguna, dan pesimis.

Mengatur tujuan hidup tidak perlu terlalu rumit, mulailah dari hal yang paling sederhana, contohnya kamu dapat membuat setting goal mulai dalam jangka pendek, misalnya apa yang akan dicapai dalam 1 tahun ataupun 5 tahun ke depan.

Mungkin juga kita bisa bergabung dalam komunitas, mengolah spiritualisme, atau melakukan hobi yang sudah sejak lama ingin kita coba.

Baca juga: 3 Tips Memulai Hobi Aquascape, Bisa Jadi Penghasilan Tambahan

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.