Kompas.com - 07/07/2021, 12:39 WIB
Studi yang dilakukan para peneliti dari Islandia menemukan bahwa pengurangan jam kerja menjadi empat hari per minggu menunjukkan kesejahteraan yang lebih baik pada partisipan mereka, tanpa mengurangi produktivitasnya. UNSPLASH/DYLAN GILLISStudi yang dilakukan para peneliti dari Islandia menemukan bahwa pengurangan jam kerja menjadi empat hari per minggu menunjukkan kesejahteraan yang lebih baik pada partisipan mereka, tanpa mengurangi produktivitasnya.

KOMPAS.com - Para peneliti dari Islandia menemukan bahwa kerja empat hari dalam seminggu, tanpa pemotongan gaji, dapat meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas pekerja.

Melansir USA Today, penelitian yang dilakukan mulai 2015-2019 itu dipublikasikan melalui lembaga think tank berbasis di Inggris, Autonomy.

Para peneliti menganalisis 2.500 orang pekerja yang jam kerjanya dikurangi menjadi hanya 35-36 jam dan bekerja di berbagai bidang, seperti rumah sakit, kantor, sekolah, dan kantor layanan sosial.

Di Islandia, rata-rata pekerja bekerja selama 40 jam per minggu dan bekerja lebih dari 13 jam per hari adalah sesuatu yang ilegal di sana.

Peneliti menemukan bahwa kesejahteraan para pekerja tersebut meningkat secara dramatis di berbagai indikator, mulai dari stres, kelelahan yang dirasakan, hingga keseimbangan kondisi kesehatan dan kehidupan kerja, setelah durasi kerjanya dikurangi menjadi empat hari.

Meski durasi kerja seminggu dikurangi, ternyata produktivitasnya tetap sama atau malah meningkat pada sebagian tempat kerja.

Baca juga: Jangan Sepelekan, Kenali Burnout karena Pekerjaan dan Pencegahannya

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketika uji coba pengurangan durasi kerja dimulai, para pakerja bekerja selama 40 jam per minggu terlebih dahulu, kemudian durasi kerja mereka dikurangi menjadi 35-36 jam.

Menurut para partisipan, pengurangan jam kerja tersebut dapat membuat mereka lebih fokus pada olahraga dan sosialisasi, yang pada akhirnya juga berdampak pada performa kerja.

Uji coba ini merefleksikan keinginan para pekerja.

Ketika penelitian dipublikasikan pada Juni 2021, sebanyak 86 persen populasi pekerja Islandia kini memiliki kontrak yang telah mengakomodasi jam kerja lebih pendek atau memberi mereka hak untuk mendapatkannya di masa depan.

Untuk itu, peneliti menganggap uji coba ini dianggap cukup sukses. Para peneliti mencatat, studi dengan dua kali uji coba skala besar tersebut membuat para pekerja beralih dari kondisi stres dan kelelahan ke kondisi kerja yang lebih sehat dan seimbang.

Model hari kerja empat hari ini juga sedang diuji coba di beberapa negara, seperti Spanyol, Jepang, dan Selandia Baru.

"Uji coba ini adalah kisah sukses yang luar biasa tentang pengurangan waktu kerja. Ini hal menarik bagi orang-orang yang kerap mengampanyekan tentang durasi jam kerja di seluruh dunia," tulis penelitian tersebut.

Baca juga: 8 Cara Mengatasi Burnout, Tak Selalu Berhenti Kerja



Sumber USA Today
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.