Kompas.com - 24/07/2021, 08:00 WIB
Suasana vaksinasi Covid-19 bagi pelajar yang digelar di SMAN 5 Bandung, Jalan Belitung, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/7/2021). Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi memulai vaksinasi Covid-19 terhadap para pelajar di Jawa Barat, dengan menargetkan 1.000 sampai 2.000 siswa yang divaksin per harinya. KOMPAS.com/AGIE PERMADISuasana vaksinasi Covid-19 bagi pelajar yang digelar di SMAN 5 Bandung, Jalan Belitung, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/7/2021). Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi memulai vaksinasi Covid-19 terhadap para pelajar di Jawa Barat, dengan menargetkan 1.000 sampai 2.000 siswa yang divaksin per harinya.

KOMPAS.com - Pemerintah telah menjalankan program vaksinasi Covid-19 untuk anak-anak usia 12 -17 tahun. Sayangnya, banyak anak yang terlanjur terinfeksi terlebih dulu sebelum mendapatkan vaksinasi.

Anak yang terinfeksi Covid-19 biasanya hanya mengalami gejala ringan dan sedang. Setelah sembuh, tubuh mereka telah membentuk antibodi terhadap virus meski tidak menutup kemungkinan dapat terinfeksi kembali kembali.

Risiko semakin bertambah, jika orangtua atau lingkungan sekitar masih belum bisa mengurangi mobilitas dan aktivitas di luar rumah. Terlebih lagi, penyebaran varian Delta saat ini dikatakan lebih mudah menular dan gejalanya lebih berbahaya.

Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita, Ph.D, Sp.A(K), M.Sc, mengatakan, berdasarkan sejumlah laporan, anak penyintas Covid-19 tetap membutuhkan vaksinasi untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. 

Baca juga: Yang Perlu Anda Ketahui soal KIPI Usai Mendapat Vaksin Covid-19

"Anak masih butuh tambahan untuk push antibodinya, dia mungkin bisa dapat antibodi, -ketika terinfeksi, tapi jumlahnya berapa tidak ada yang tahu secara pasti," ujarnya seperti dikutip dari Instagram @idai_ig.

Menurutnya,  sulit memastikan apakah antibodi yang dimiliki oleh anak sudah benar-benar ampuh dalam menangkal virus. Apalagi tidak mudah untuk melakukan pemeriksaan kadar antibodi seseorang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pakar ilmu kesehatan anak ini menilai, anak penyintas Covid-19 yang berusia 12-17 tahun tetap membutuhkan vaksin. Paling tidak satu kali vaksin harus diberikan untuk memperkuat antibodinya.

Meski demikian, ia meminta para orangtua untuk menunggu sampai anak benar-benar sembuh dar infeksinya. Untuk mengantisipasi anak yang berstatus OTG atau kemungkinan adanya long covid, ia menyarankan vaksinasi dilakukan tiga bulan setelah terinfeksi.

Baca juga: Wamenkes Sebut Keterpakaian Ruang Rawat Intensif Anak Terinfeksi Covid-19 Meningkat

"Karena kita juga tidak tahu pasti, sembuh tidak ada gejala, jadi dinyatakan setelah tiga bulan ya, karena kita takut ada long covid," jelasnya.

Saat ini, vaksin Sinovac telah mendapatkan izin dari BPOM untuk diberikan kepada anak usia 12-17 tahun. Anak yang divaksin diharuskan dalam kondisi sehat, tidak ada keluhan batuk, pilek, panas, penyakit bawaan atau penyakit autoimun lainnya.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.