Kompas.com - 27/07/2021, 08:05 WIB
Ilustrasi mpasi pada bayi. DOK. FREEPIKIlustrasi mpasi pada bayi.

Tidak cukup sampai di situ. Keluarga-keluarga muda dengan bayi dan balita rentan gizi semakin terpapar informasi yang bersliweran di media sosial – yang mereka pikir tuntunan, padahal cuma konten tontonan yang semakin sering dibuka dan semakin banyak ditandai ‘like’ maka pemilik akunnya semakin kaya.

Salah satunya yang sering dipertanyakan ibu-ibu muda adalah cara membuat makanan pendamping ASI.

Alih-alih mengacu pada buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang telah menjadi panduan nasional dan bisa didapatkan gratis di puskesmas, para ibu di pertengahan 20-an ini adalah pengguna medsos aktif yang akhirnya belajar dari artis dan selebgram.

Antara marah, sedih dan ngeri, dalam satu hari saya membalas ratusan komen dan ‘direct messages’ yang menanyakan kenapa bayinya selalu tidak mau makan, berat badannya seret, bahkan ada yang sudah menyentuh garis merah di grafik tumbuh kembangnya.

Baca juga: Pentahelix: Masihkah Relevan untuk Edukasi Gizi?

Ketika ditanya apa yang mereka beri, sederetan bahan pangan ajaib muncul, mulai dari keju bayi, mentega khusus bayi, hingga aneka minyak impor.

Belum lagi menu-menu asing berupa sup krim dan aneka selingan banjir susu serta ‘kaldu bubuk non MSG’.

Barangkali, para pemegang kebijakan pangan dan gizi balita bukan mereka yang langsung berhubungan dengan para ibu yang terpapar medsos hingga di pelosok kalimantan dan papua.

Para orangtua yang istiqomah ‘ingin memberi yang terbaik’ buat bayinya – sehingga aneka bahan produk ajaib itu bisa mereka beli melalui jasa toko online. Walaupun warung sebelah hanya jual mi instan dan kerupuk.

Sudah waktunya kita berdiri memberi cahaya terang. Jangan sampai, publik berjalan dalam gelap dan main tabrak sesuai daya tangkap masing-masing. Persis seperti kekacauan pencegahan dan penanganan pandemi yang makin ngeri.

 

Mulai dari panik memborong vitamin over dosis dan aneka produk ajaib yang diasumsikan sebagai pendongkrak imunitas, hingga obat-obatan yang bisa dibeli bebas, liar tanpa resep.

Bahkan, publik sudah kehilangan rasa percaya terhadap para pakar kesehatan yang masing-masing punya pakem sendiri-sendiri.

Amat mengkhawatirkan jika kita menghadapi luapan penyakit baru saat pandeminya saja belum usai, akibat salah paham menghujani diri dengan pelbagai asupan yang salah jalur.

Kelompok rentan kita adalah keluarga-keluarga muda yang miskin secara ekonomi dan literasi. Tapi mudah percaya rekomendasi sana sini.

Bahkan, makin banyak ibu-ibu muda mencekoki bayinya di bawah satu tahun dengan madu, dan ada juga yang nekat memulai MPASI di usia dini sebelum genap 6 bulan. Hanya karena ASI-nya seret, berat badan anak tidak naik-naik, ketakutan terkena imbas infeksi akibat pandemi.

Mereka tidak mencari bantuan konselor laktasi – bahkan tidak tahu bahwa menyusui harus belajar – tahunya hanya informasi yang bersliweran di medsos.

Baca juga: Berkeluarga Tanpa Edukasi: Mimpi Ngeri Masalah Gizi

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.