Kompas.com - 28/07/2021, 15:37 WIB
Ilustrasi Cyber Crime ShutterstockIlustrasi Cyber Crime
|
Editor Wisnubrata

Ransomware adalah malware yang dapat mengacak dan mencuri data komputer organisasi.

REvil mengklaim bertanggung jawab atas insiden itu, dan mengatakan sudah mengenkripsi lebih dari satu juta sistem.

Kemudian kelompok tersebut meminta tebusan sebesar 70 juta dollar AS (setara Rp 1 triliun) dalam bentuk Bitcoin.

Uang itu rencananya akan digunakan REvil untuk membuat alat dekripsi guna memulihkan file penting perusahaan yang menjadi korban serangan kelompok tersebut.

Berkaca dari tindakan yang dilakukan REvil, pakar peretasan mengatakan serangan siber semacam itu bisa lebih sering terjadi.

Pakar peretasan juga mengingatkan, perusahaan tidak boleh meremehkan serangan siber pada karyawan yang bekerja dari rumah.

Berdasarkan survei dari Tessian, perusahaan keamanan yang berbasis di Inggris dan AS, terungkap fakta mengejutkan.

Survei itu menemukan, sekitar 56 persen teknisi senior TI meyakini karyawan mereka memiliki tingkat keamanan siber yang buruk ketika bekerja dari rumah.

Lebih parahnya lagi, banyak karyawan yang setuju dengan survei tersebut.

Hampir dua dari lima karyawan atau sekitar 39 persen mengaku praktik keamanan siber mereka di rumah tidak sebagus saat mereka bekerja di kantor.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.