Kompas.com - 28/07/2021, 15:37 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
|
Editor Wisnubrata

Sebagian karyawan mengungkapkan penyebab hal ini adalah kurangnya perhatian dari departemen TI di kantor mereka, dibandingkan sebelum pandemi.

"Salah satu kesalahan utama yang kami lihat adalah memindahkan data perusahaan ke akun email pribadi," kata Henry Trevelyan-Thomas, vice president of Customer Success di Tessian.

"Ketika Anda melakukan itu, kemungkinan Anda tidak memiliki otentikasi dua faktor apa pun. Akibatnya penjahat siber mudah mengeksploitasi data itu."

"Jika data bocor, penjahat siber memanfaatkan data dan itu bisa berakhir di tangan yang salah," tambahnya.

Para ahli juga mengingatkan adanya pertumbuhan email phising bertema virus corona yang meningkat.

Email phising yang merupakan bentuk penipuan untuk mencuri informasi pribadi menargetkan karyawan beberapa perusahaan di seluruh dunia.

Di masa puncak pandemi pada 2020, perusahaan keamanan jaringan Barracuda Networks mengatakan adanya peningkatan 667 persen dalam email phishing berbahaya.

Pada waktu yang sama, Google juga melaporkan sudah memblokir lebih dari 100 juta email phishing setiap hari.

"Rekayasa sosial dan phishing bekerja paling baik ketika ada iklim ketidakpastian," sebut Casey Ellis, pendiri platform keamanan BugCrowd.

"Sebagai 'penyerang' dalam skenario itu, saya mempunyai basis orang-orang yang ketakutan untuk dikerjai."

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.