Kompas.com - 02/08/2021, 11:01 WIB
Pebulutangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan bersalaman seusai kalah dari ganda putra Taiwan Lee Yang/Wang Chi-Lin dalam semifinal Olimpiade Tokyo 2020, di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Jumat (30/7/2021). Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan gagal ke final setelah kalah 11-21, 10-21, dan selanjutnya mereka akan memperebutkan medali perunggu melawan ganda putra Malaysia pada Sabtu 31 Juli 2021. ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWANPebulutangkis ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan bersalaman seusai kalah dari ganda putra Taiwan Lee Yang/Wang Chi-Lin dalam semifinal Olimpiade Tokyo 2020, di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Jumat (30/7/2021). Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan gagal ke final setelah kalah 11-21, 10-21, dan selanjutnya mereka akan memperebutkan medali perunggu melawan ganda putra Malaysia pada Sabtu 31 Juli 2021.

KOMPAS.com - Kekecewaan akibat kegagalan adalah hal yang wajar, termasuk ketika kita gagal dalam kompetisi.

Dalam konteks kompetisi olahraga, kecewa akibat kekalahan tak hanya dirasakan oleh para atlet dan tim pelatih, tetapi juga dapat dirasakan oleh para pendukungnya sebagai saksi pertandingan.

Di kompetisi olahraga besar seperti Olimipiade Tokyo 2020, misalnya, kita melihat sejumlah atlet yang kita dukung melalui momen kemenangan dan juga kekalahan, membuat emosi kita sebagai pendukung ikut terpengaruh.

Psikolog berlisensi Lisa M Stephen, PhD mengatakan, kekalahan atau kegagalan dapat membuat seseorang merasa dibanjiri perasaan sedih dan tidak nyaman.

Namun, sebaiknya kita menerima perasaan itu.

"Biarkan diri kita merasakan apa yang kita cemaskan, apa yang membuat kita marah (dengan diri sendiri maupun orang lain), ini tidak harus rasional."

"Kenali perasaan tersebut dan lihatlah apa yang akan kita lakukan setelahnya," ungkapnya, seperti dilansir Men's Health.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kesedihan akibat kekalahan atlet atau tim kesayangan di sebuah pertandingan besar bahkan bisa membuat sebagian pendukung mengalami gejala depresi.

Jika diabaikan, gejala ini bisa menyebabkan kondisi serius. Tapi, kondisi ini bisa diatasi.

Lalu, bagaimana agar hati kita sebagai pendukung mampu menerima kegagalan atlet atau tim olahraga yang kita dukung? Berikut sejumlah tipsnya:

Halaman:


Sumber ,Thriveworks
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.