Kompas.com - 02/08/2021, 14:05 WIB

Ketika pandemi dimulai, Corlett dan rekan-rekannya sudah mempelajari peran ketidakpastian dalam perkembangan paranoia (delusi dianiaya atau merasa sangat takut).

Penelitian dilakukan lewat permainan kartu sederhana di mana aturan bisa tiba-tiba berubah, memicu peningkatan paranoia dan perilaku tidak menentu di antara para peserta.

"Kami terus mengumpulkan data melalui lockdown dan kebijakan pelonggaran yang dilakukan," kata Corlettnya.

"Itu adalah salah satu insiden langka dan kebetulan di mana kami dapat mempelajari apa yang terjadi ketika dunia berubah dengan cepat dan tak terduga."

Lewat survei online dan permainan kartu yang sama, para peneliti mendeteksi peningkatan tingkat paranoia dan perilaku tidak menentu di antara populasi umum di Amerika Serikat selama pandemi.

Tingkatannya jauh lebih tinggi di negara bagian yang mewajibkan penggunaan masker, dibandingkan negara-negara dengan pembatasan yang lebih longgar.

Namun paranoia tertinggi muncul di daerah yang tingkat kepatuhannya terendah, sekaligus terdapat orang-orang yang merasa bahwa aturan harus diikuti.

"Pada dasarnya orang menjadi paranoid ketika ada aturan dan orang-orang tidak mengikutinya," kata pakar yang juga menulis buku ini.

Studi ini juga menemukan, orang dengan tingkat paranoia yang lebih tinggi lebih cenderung mendukung konspirasi tentang pemakaian masker dan vaksin.

Dukungan termasuk pada teori konspirasi anonim bahwa pemerintah melindungi politisi dan selebritas Hollywood yang terlibat jaringan pedofilia nasional.

Corlett mencatat teori konspirasi telah berkembang di masa lalu selama masa-masa sulit. Misalnya saja teori bahwa serangan teroris 9/11 sebenarnya diatur oleh pemerintah AS.

"Dalam masa trauma dan perubahan besar, sayangnya, kita cenderung menyalahkan kelompok lain," katanya.

Baca juga: 5 Informasi Vaksin Covid-19 yang Tak Berdasar, Awas Termakan Hoaks!

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Sumber WebMD


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.