Kompas.com - 02/08/2021, 20:37 WIB
Relawan dari polisi masyarakat (Polmas) dan keluarga saat melakukan pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 di Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/7/2021). Pasien meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bekerja sama dengan Polresta Bogor Kota menyediakan nomor hotline (WhatsApp) untuk penanganan jenazah pasien Covid-19 saat isolasi mandiri dengan nomor 0811-1173-165. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGRelawan dari polisi masyarakat (Polmas) dan keluarga saat melakukan pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 di Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/7/2021). Pasien meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bekerja sama dengan Polresta Bogor Kota menyediakan nomor hotline (WhatsApp) untuk penanganan jenazah pasien Covid-19 saat isolasi mandiri dengan nomor 0811-1173-165.

KOMPAS.com - Anggapan "dicovidkan" muncul sebagai salah satu teori konspirasi paling populer selama pandemi.

Dicovidkan bukan istilah yang resmi namun banyak dipakai oleh masyarakat selama pandemi ini. Hal ini didasarkan pada kecurigaan akan adanya teori konspirasi bahwa Covid-19 tidak ada dan isu ini hanya diciptakan demi keuntungan pemerintah belaka.

Penyangkalan ini berujung dengan anggapan bahwa orang yang sakit pasti akan dinyatakan sebagai pasien Corona. Akibatnya, banyak yang enggan menerapkan protokol kesehatan, tidak mau memeriksakan diri ketika sakit, dan penuh kecurigaan pada tenaga kesehatan.

Dokter spesialis penyakit dalam, RA Adaninggar,dr,SpPD mengatakan tidak ada istilah dicovidkan dalam dunia kedokteran.

"...yang ada adalah diagnosis banding di mana pada era pandemi sekarang Covid harus masuk sebagai salah satu kemungkinan diagnosis penyakit infeksi,,," ujarnya, dikutip dari akun Instagramnya.

Baca juga: Menurut Riset, Pandemi Bikin Teori Konspirasi Makin Menjadi-jadi

Ia menerangkan, ada beberapa penjelasan ilmiah untuk setiap anggapan dicovidkan yang terlanjur menyebar di masyarakat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

  • "Kalau bergejala flu jangan swab antigen/PCR karena nanti hasilnya pasti positif"

Tudingan ini merupakan salah satu yang banyak menyebar di media sosial maupun grup whatsapp. Sayangnya, banyak yang percaya sehingga mempersulit tracking dan pengobatan yang harus dilakukan.

Covid-19 memang bisa menjadi salah satu penyebab flu. Jadi, apabila orang yang bergejala flu diswab antigen/ PCR menunjukkan hasil positif Covid-19 artinya memang ada virus atau materi genetik tersebut. 

Hal ini dipastikan dengan pernyataan WHO bahwa swab antigen/PCR spesifitasnya 99-100 persen sehingga khusus hanya memerika virus penyebab Covid.

Baca juga: [HOAKS] Bekas Suntikan Vaksin Menimbulkan Radiasi Elektromagnet

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.