Kompas.com - 09/08/2021, 15:28 WIB

KOMPAS.com – Pasien ginjal kronik yang menjalani cuci darah atau hemodialisis merupakan kelompok yang rentan tertular hepatitis. Perlindungan terhadap pasien perlu diperkuat.

Menurut data Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) tahun 2018, 45 persen pasien ginjal kronik terpapar hepatitis C setelah mereka menjalani tindakan hemodialis. Mayoritas terpapar hepatitis C dalam kurun waktu 1-3 tahun pertama proses cuci darah.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia, dr. Aida Lydia, Ph.D, Sp.PD-KGH, mengatakan pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani cuci darah memang prevalensi hepatitisnya lebih tinggi.

“Secara umum usia harapan hidup pasien dialisis yang terkena hepatitis akan semakin singkat, belum lagi kalau terkena penyakit hati kronik (sirosis hati atau kanker hati),” katanya dalam acara seminar awam tentang hepatitis dan penyakit gagal ginjal kronik yang diadakan secara virtual oleh KPCDI (8/8/2021).

Ketua KPCDI, Tony Samosir mengatakan, dalam hal pelayanan hemodialisis penggunaan tabung dialiser yang digunakan secara berulang pada tiap tindakan dialisis berpotensi menjadi sumber penularan virus hepatitis C.

Baca juga: Komunitas Pasien Cuci Darah Minta RS Tak Menolak Layani Hemodialisis meski Krisis Covid-19

Selain itu, tingginya penggunaan dan tindakan transfusi darah karena akses obat-obatan yang belum merata dijamin oleh BPJS Kesehatan juga berpontesi menjadi penyebab penularan hepatitis C yang semakin tidak terkontrol.

“Hal utama yang menyebabkan angka penderita hepatitis semakin tinggi karena kurangnya edukasi dan pemahaman yang tentang pencegahan hepatitis diruangan tindakan hemodialisis dan keterbatasan akses obat-obatan,” kata Tony dalam acara yang sama.

Seminar awam tentang hepatitis dan penyakit gagal ginjal kronik yang diadakan secara virtual oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia, (8/8/2021).Dok KPCDI Seminar awam tentang hepatitis dan penyakit gagal ginjal kronik yang diadakan secara virtual oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia, (8/8/2021).

Pencegahan

Penularan hepatitis C pada pasien gagal ginjal sebenarnya bisa dicegah dengan penerapan protokol pencegahan infeksi.

Seiring berkembangnya teknologi medis, pemberian obat-obatan yang mudah dijangkau, menjalankan prosedur yang baik, serta memilih terapi dialisis maupun transplantasi ginjal sesuai dengan kebutuhan pasien bisa menjadi pilihan yang tepat dan disarankan bagi para pasien gagal ginjal.

Untuk pasien yang rutin melakukan hemodialisis disarankan untuk melakukan vaksinasi hepatitis B. Sementara itu, pasien yang terinfeksi hepatitis C bisa dilakukan pengobatan antiviral.

Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia, Dr.dr.Irsan Hasan Sp.PD-KGEH mengatakan, saat ini vaksin hepatitis C memang belum tersedia, padahal hepatitis kronik bisa berlanjut menjadi sirosis hati.

“Pada kejadian penyakit ginjal kronik stadium akhir, studi menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan terapi antiviral untuk hepatitis C lebih rendah risikonya dibanding dengan kelompok yang tidak mendapat terapi,” katanya.

Baca juga: Kenali The Sillent Killer Hepatitis, Cara Menular dan Mencegahnya

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.