Kompas.com - 10/08/2021, 12:02 WIB
Ilustrasi diet ekstrem UNSPLASH/JENNIFER BURKIlustrasi diet ekstrem

KOMPAS.com - Diet ekstrem atau diet ketat memang bisa membantu kita meraih hasil yang diinginkan dalam waktu singkat. Namun, diet ekstrem sering kali tak baik bagi kesehatan.

Cara menurunkan berat badan yang baik adalah dengan membiasakan diri menjalani pola hidup sehat, tak hanya lewat makanan dan minuman yang diasup tetapi juga dipadukan dengan rutinitas positif lainnya.

Meski bisa membuat angka timbangan kita turun dengan cepat, diet ekstrem juga berisiko membuat pelakunya merasa lemas, suasana hati mudah berubah, mual, hingga merasakan sakit.

Tak hanya itu, dampak diet ekstrem dalam jangka panjang termasuk berat badan yang kembali ke asal. Tentu kita tak mau hal itu terjadi, kan?

Melansir US News & World Record, berikut beberapa dampak diet ketat yang dapat terjadi pada tubuh kita:

1. Dehidrasi

Kesuksesan instan dari diet ekstrem sebetulnya hanya ilusi.

Sebab, menurut spesialis penyakit dalam dan spesialis obesitas dari Comprehensive Weight Control Center, Weill Cornell Medicine di New York City, Dr Louis J Aronne, berat badan yang hilang tersebut cenderung berasal dari berat air, bukan lemak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penyebabnya, ketika kita membatasi kalori, karbohidrat atau keduanya, sumber energi pertama yang akan dibakar oleh tubuh adalah glikogen.

Glikogen adalah bentuk karbohidrat yang disimpan di hati dan otot, dan 3 gram air melekat pada setiap gram karbohidrat.

Jadi, saat tubuh kita membakar semua glikogen, air tersebut akan ikut keluar dari tubuh.

"Jadi banyak orang yang melakukan diet singkat kemudian berakhir dengan kehilangan banyak air dan dehidrasi," ujarnya.

Beberapa gejala yang mengikuti antara lain sakit kepala, lelah, dan pusing.

Baca juga: 9 Tanda Dehidrasi yang Tidak Boleh Diabaikan

2. Gula darah tak terkontrol

Bergantung pada jenis dietnya, kita mungkin tidak akan mendapatkan asupan gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan serat yang stabil sepanjang hari untuk menjaga kadar gula darah dan insulin tetap stabil.

Jika mengikuti diet detoks atau pembersihan, misalnya, asupan jus tinggi gula dan rendah serat secar teratur dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah yang kemudian turun dengan cepat.

Kondisi ini bisa menyebabkan kita merasa sangat lapar beberapa jam kemudian.

Beberapa pola diet ketat juga dikaitkan dengan yo-yo diet atau berat badan kembali seperti semula.

Beberapa penelitian menemukan, fluktuasi berat badan dapat berkonstribusi terhadap resistensi insulin dan risiko diabetes tipe 2.

Meski begitu, belum ada data pasti terkait hal ini. Sebab, penelitian mengungkapkan hasil yang beragam pada penelitian terhadap manusia maupun hewan.

Baca juga: 5 Tanda Kadar Gula Darah Meningkat, Waspadai Gejalanya

3. Kehilangan otot

Penurunan berat badan yang stabil dan lambat hanya membuat kita kehilangan otot tak lebih dari sekitar 1 persen dari berat badan per minggu. Sebanyak 75 persennya berasal dari lemak dan 25 persennya dari kombinasi air dan otot.

Menggunakan pendekatan diet yang agresif dengan memangkas kalori hingga di bawah 1.000 hingga 1.200 kalori per hari akan membuat tubuh memecah protein otot untuk energi.

Penelitian menunjukkan, ketika kita menurunkan berat badan dengan cepat, kita bakal kehilangan otot sekitar tiga kali lebih banyak daripada jika menurunkan berat badan dengan lambat.

Jadi, meskipun berat badan kita turun, fisik kita mungkin tidak terlihat jauh lebih baik.

Sementara penurunan berat badan yang sangat cepat bisa menyebabkan otot-otot jantung mengalami atrofi.

Misalnya, diet cairan rendah kalori yang ekstrem berkaitan dengan aritmia ventrikel dan risiko kematian.

Baca juga: Bahayanya Kehilangan Massa Otot akibat Diet Ketat

4. Metabolisme tubuh melambat

Dengan lebih sedikit otot, tingkat metabolisme tubuh kita, atau jumlah kalori yang dibakar saat istirahat, secara otomatis juga akan turun.

Artinya, tubuh kita bakal membakar lebih sedikit kalori ketika berjalan, berbicara, dan bahkan berolahraga.

Metabolisme tubuh akan turun cukup rendah sehingga tubuh malah berhenti menurunkan berat badan. Ketika kita berhenti diet, metabolisme tubuh akan selalu lebih lambat daripada sebelum melakukan diet ketat.

Sementara itu, ahli diet teregistrasi dan manajer layanan nutrrisi kesehatan dari Cleveland Clinic di Ohio, Kristin Kirkpatrick mengatakan, otak kita akan berpikir bahwa makanan yang kita asup belum cukup. Ini akan memicu tubuh kita mengandalkan kalori untuk mencegah tubuh kelaparan.

Pada akhirnya, jika memiliki target penurunan berat badan, opsi terbaik adalah berkonsultasi dengan ahlinya. Selain mendapatkan saran terbaik untuk mencapai target diet, kita juga bisa dijauhkan dari kemungkinan menjalani diet ketat yang tidak sehat.

Baca juga: 5 Kebiasaan yang Bisa Memperlambat Metabolisme Tubuh

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.